JABAR EKSPRES – Pemerintah China memutuskan untuk menangguhkan kebijakan pengendalian ekspor atas sejumlah sumber daya dan material strategis selama satu tahun, serta mencabut larangan impor kedelai dan kayu gelondongan dari Amerika Serikat. Kebijakan ini diumumkan oleh Kementerian Perdagangan China (MOFCOM) pada Jumat (7/11), seperti dilaporkan oleh Global Times.
Dalam pernyataannya, MOFCOM mengonfirmasi bahwa pengendalian ekspor atas berbagai komoditas penting seperti material super keras, peralatan terkait logam tanah jarang, bahan baku dan tambahan, logam tanah jarang kelas menengah dan berat, baterai litium, serta bahan anoda grafit sintetis resmi dicabut.
Selain itu, pembatasan terhadap sejumlah teknologi dan barang asing yang berhubungan dengan logam tanah jarang juga dihapuskan.
Baca Juga:PBB: Israel Tolak 107 Permintaan Bantuan ke Gaza Sejak Gencatan Senjata5 Motor Listrik Lokal Indonesia yang Ramah Lingkungan, dan Berkualitas
Kebijakan penangguhan ini mulai berlaku pada 7 November 2025 dan akan berakhir pada 10 November 2026.
Langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari pertemuan antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Korea Selatan pada 30 Oktober, di mana keduanya sepakat untuk menandatangani kesepakatan perdagangan dan tarif selama satu tahun.
Sebelumnya, pada 9 Oktober, China sempat memperketat pembatasan ekspor logam tanah jarang, termasuk melarang kerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin resmi pemerintah. Namun setelah pertemuan bilateral tersebut, MOFCOM mengumumkan pencabutan sementara pembatasan tersebut khusus untuk Amerika Serikat.
Di sisi lain, Administrasi Umum Kepabeanan China (GAC) juga mencabut larangan impor terhadap sejumlah produk pertanian dan kehutanan dari AS, seperti kedelai dan kayu gelondongan. Dalam pernyataannya, GAC menjelaskan bahwa langkah ini diambil setelah menilai adanya tindakan perbaikan dari pihak AS sesuai dengan standar hukum dan karantina tumbuhan internasional.
“Langkah ini diambil setelah evaluasi atas tindakan korektif yang dilakukan pihak AS dan sesuai dengan hukum, peraturan, serta standar internasional terkait tindakan karantina tumbuhan,” tulis pernyataan tersebut.
Mulai 10 November 2025, tiga perusahaan kedelai asal AS akan kembali memperoleh izin ekspor ke China, sementara impor kayu gelondongan dari AS juga akan dilanjutkan. Menurut data Departemen Pertanian AS, ekspor kedelai ke China pada tahun 2024 tercatat sebesar 12,2 miliar dolar AS (sekitar Rp203,6 triliun), menurun dari 17,9 miliar dolar AS pada 2022.*
