Chef Neni, A.Md.Par., S.E., M.M., seorang chef profesional bersertifikat yang bertindak sebagai instruktur utama, secara khusus menekankan pentingnya pemahaman peserta terhadap karakteristik setiap bahan pangan.
“Setiap bahan memerlukan perlakuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, ayam harus dimasak hingga benar-benar matang sempurna untuk membunuh bakteri, sedangkan untuk sayuran, cukup dimasak setengah matang atau blanching agar kandungan gizinya tidak hilang. Sementara untuk penyimpanan, bahan beku harus disimpan pada suhu -10 hingga -21 derajat Celsius, dan bahan segar di suhu 0 hingga 5 derajat Celsius,” papar Chef Neni dengan detail.
Selain teknik pengolahan, para peserta juga dilatih untuk melakukan praktik monitoring suhu harian pada chiller dan freezer. Hal ini merupakan langkah preventif untuk memastikan kesegaran dan keamanan bahan pangan terjaga dari sejak disimpan hingga diolah.
Baca Juga:Buka Suara Isu OTT, Wawalkot Tegaskan hanya Sebagai SaksiDugaan Penyalahgunaan Kewenangan di Lingkungan Pemkot, Wali Kota Bandung Buka Suara
Chef Neni berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan kesadaran para tenaga kerja kuliner untuk terus mengasah keterampilan dan meningkatkan profesionalisme melalui jalur sertifikasi yang resmi.
“Harapan kami, seluruh sumber daya manusia yang bekerja di dapur-dapur MBG, khususnya di Kabupaten Ciamis, memiliki kompetensi yang sesuai dengan posisinya. Karena saat ini peralatan dan prosedur di dapur sudah distandarkan oleh pemerintah, maka sumber daya manusianya pun harus mengikuti standar tersebut,” tutur Chef Neni.
Sementara itu, Ketua IJTI Galuh Raya, Yosep Trisna, menyatakan bahwa pelatihan ini merupakan bentuk komitmen organisasinya dalam mendukung pengembangan kualitas SDM di daerah serta membantu pemerintah dalam mensukseskan program nasional MBG. “Pelatihan dan sertifikasi ini diperuntukkan bagi para chef yang belum tersertifikasi. Di season pertama ini kami batasi satu kelas hanya untuk 20 peserta, dan saat ini ada sekitar 16 orang yang mengikuti,” ujarnya.
Yosep menambahkan, keterbatasan kuota dilakukan untuk memastikan kualitas pelatihan dan pendampingan kepada peserta dapat berjalan secara maksimal. Ke depannya, kegiatan serupa diharapkan dapat terus berlanjut sehingga semakin banyak juru masak dapur MBG yang tersertifikasi. Komitmen IJTI ini, menurutnya, merupakan wujud peran aktif dalam peningkatan kompetensi tenaga kerja kuliner dan upaya memberikan kemudahan akses sertifikasi profesi bagi para pelaku di lapangan.
