Beberapa pengguna yang mencoba menarik saldo bahkan melaporkan proses yang rumit dan gagal berulang kali. Hal ini menimbulkan dugaan bahwa sistem memang sengaja dibuat agar dana tidak benar-benar bisa dicairkan.
Jika diperhitungkan, setiap peserta membayar sekitar Rp3.000 untuk verifikasi KYC. Bila ada ribuan pengguna yang mendaftar, maka pengembang berpotensi mengumpulkan dana dalam jumlah besar tanpa kejelasan alokasi. Praktik seperti ini sering ditemukan pada proyek kripto bermasalah yang tujuannya bukan membangun teknologi, tetapi menghimpun uang dari pengguna sebanyak-banyaknya.
Hingga kini, tidak ada bukti resmi yang menunjukkan bahwa CTC Plus memiliki izin operasional, audit keamanan, atau identitas pengembang yang bisa diverifikasi. Bahkan, sosok yang disebut sebagai “leader” proyek pun tidak diketahui dengan pasti. Kondisi ini membuat banyak pihak menduga proyek ini hanya menumpang popularitas tren kripto untuk menarik minat investor pemula.
Baca Juga:Pendaftaran Dibuka!! Berikut Jadwal Resmi Pemanggilan PPG Tahap 4 2025 di SIMPKBKabar Gembira! KUR BRI 2025 Buka Lagi Pinjaman Rp85 Juta, Begini Simulasi Cicilan dan Bunganya
Melihat berbagai kejanggalan di atas, CTC Plus sangat patut dicurigai sebagai proyek berisiko tinggi, bahkan berpotensi scam. Dari KYC berbayar, situs yang tidak konsisten, tidak adanya whitepaper dan audit, hingga token yang tidak bisa dicairkan—semuanya menunjukkan ciri khas proyek kripto bermasalah.
Meskipun belum ada bukti resmi bahwa CTC Plus melakukan penipuan, tanda-tanda mencurigakan ini cukup kuat untuk dijadikan peringatan bagi para pengguna agar tidak terburu-buru ikut airdrop atau berinvestasi di dalamnya.
Selalu ingat dunia kripto penuh peluang, tapi juga sarat risiko. Jangan tergiur oleh janji cuan cepat atau airdrop gratisan tanpa memahami risiko yang mungkin terjadi. Lakukan riset menyeluruh sebelum menaruh uang atau data pribadi Anda ke proyek apa pun.
