“Setelah hujan besar tanggal 5 Mei, saya periksa ada kerusakan di bawah jembatan. Tanggal 10 Mei ada pemeriksaan dari PUPR, artinya mereka sudah tahu,” ungkap Asep.
Namun, ia menyayangkan lambatnya respon dari pemerintah hingga akhirnya jembatan benar-benar roboh.
“Saya lapor untuk antisipasi biar segera diperbaiki. Tapi keburu roboh pas truk material lewat. Untung enggak ada korban jiwa,” ucapnya.
Baca Juga:Gattuso Siap Angkat Kaki dari Timnas Italia Jika Gagal ke Piala Dunia 2026Erick Thohir Minta Dua Hari Sebelum Buka Suara Soal Nasib Pelatih Timnas
Kini, selain jembatan utama yang roboh, bagian jembatan lain di sisi selatan juga mulai retak dan berlubang. Asep khawatir jika tidak segera diperbaiki, kampung mereka bisa terisolasi.
“Yang di selatan udah bolong dua hari lalu, tanggal 14 Oktober. Kalau itu putus juga, kami bisa terisolir. Kendaraan berat sudah enggak boleh lewat,” jelasnya.
Ia pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan sebelum kembali terjadi insiden serupa.
“Jangan nunggu korban lagi. Segera diperbaiki, karena ini jalur utama warga, anak sekolah, dan petani,” tegas Asep.
