“Dulu cukup daftar lewat daring, sekarang harus datang. Kami ingin tahu siapa yang benar-benar niat bekerja, bukan hanya ikut pelatihan untuk dapat uang saku,” tegas Andri.
Ia juga menambahkan bahwa lembaga pelatihan kerja (LPK) yang dilibatkan harus berasal dari kalangan pelaku usaha langsung agar materi dan pembelajarannya lebih relevan.
“Kalau mau pelatihan franchise, ya narasumbernya harus pelaku franchise yang sudah punya cabang dan omzet jelas. Bukan hanya teori. Kami ingin peserta dapat ilmu yang nyata dan bisa langsung diterapkan,” ujarnya.
Baca Juga:Marc Marquez Sukses Jalani Operasi Bahu di Madrid, Fokus Pulih Usai Insiden MandalikaPersib Bawa Mental Juara ke Sleman, Fokus Asah Taktik Hadapi PSBS Biak
Meski begitu, Andri mengakui bahwa kendala masih muncul dari sisi mentalitas peserta. “Masalah utama bukan hanya keterampilan, tapi mental. Banyak yang sudah dilatih, tapi tidak mau ditempatkan di luar Cimahi. Ada juga yang baru dua minggu bekerja, lalu berhenti. Ini yang harus diperbaiki,” ungkapnya.
Menurutnya, pembenahan mentalitas tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, tapi harus tumbuh dari kesadaran individu. “Kita hanya bisa memfasilitasi. Tapi kesiapan mental harus datang dari diri sendiri,” katanya.
Terkait efektivitas program, Andri menyebut beberapa pelatihan seperti servis motor dan security terbukti berhasil menyalurkan peserta ke berbagai wilayah.
“Untuk pelatihan servis motor misalnya, peserta banyak yang diterima di Kabupaten Bandung dan KBB karena di Cimahi sudah penuh. Kami juga tetap memantau melalui grup WhatsApp agar informasi lowongan kerja bisa cepat disebarkan,” jelasnya.
Namun, keterbatasan anggaran membuat jumlah peserta harus dibatasi. “Contoh, pelatihan digital marketing kuotanya hanya 30 orang, padahal pendaftar mencapai 300. Servis motor pun begitu, sehari diumumkan langsung 280 yang daftar. Ini menunjukkan antusiasme tinggi, tapi kami harus menyesuaikan dengan anggaran yang tersedia,” ujar Andri.
Ia menegaskan, efisiensi anggaran bukan berarti mengurangi kualitas program. Justru melalui seleksi yang lebih ketat dan pelibatan pelaku usaha langsung, diharapkan hasil pelatihan akan lebih efektif dan berorientasi pada penyerapan kerja.
“Tujuan kami jelas, menekan angka pengangguran di Cimahi. Karena itu, setiap program harus tepat sasaran, transparan, dan berdampak nyata,” tutup Andri. (Mong)
