Setiyadi Nuryatin, GM BMT Itqan, menuturkan bahwa ajang ini membantu pelaku UMKM memperluas jaringan dan meningkatkan kepercayaan diri mereka.
“Biasanya mereka hanya promosi lewat media sosial. Tapi di sini, bisa langsung bertemu pelanggan, buyer, bahkan pelari dari luar kota. Alhamdulillah dampaknya terasa sekali,” ujarnya sambil tersenyum.
Sementara di panggung kecil dekat taman, lantunan musik angklung yang dimainkan oleh para siswa Yayasan Pendidikan Itqan menambah kehangatan suasana. Para pelari yang telah finis duduk santai di rerumputan, menikmati musik dan udara pagi sambil menyantap minuman isotonik.
Baca Juga:Revitalisasi Tangki LNG Arun Capai 81 Persen, Target Beroperasi Akhir 2025Pemprov Jateng Buka Hotline Aduan Keracunan Menu MBG
Suasana seperti pesta rakyat — tanpa sekat, tanpa kemewahan, tapi penuh kebersamaan.
Di balik semua euforia, BabatuRun tetap berpijak pada satu tujuan mulia: donasi. Seperti disampaikan oleh Aep Khaerudin, Ketua Yayasan Pendidikan Itqan, sebagian hasil kegiatan dialokasikan untuk sekolah dan pesantren binaan yayasan di kawasan Arjasari, Kabupaten Bandung.
“Hampir semua santri kami dari keluarga dhuafa. Jadi kegiatan ini bukan hanya soal lari, tapi benar-benar memberi manfaat langsung,” tuturnya lembut.
Dengan begitu, BabatuRun bukan hanya menciptakan peluh di lintasan, tapi juga membuka harapan di ruang-ruang belajar.
Menjelang siang, satu per satu peserta mulai meninggalkan area taman. Di tangan mereka tergenggam medali, namun di hati, tersimpan rasa hangat yang sulit digambarkan. BabatuRun mungkin hanya menempuh jarak 5 kilometer, tapi maknanya jauh lebih panjang dari itu.
Di setiap langkah yang diayunkan, terselip kepedulian. Di setiap napas yang dihela, ada semangat untuk berbagi.
BabatuRun 2025 berhasil membuktikan bahwa olahraga bukan hanya tentang kecepatan atau kompetisi, melainkan tentang kebersamaan — tentang bagaimana lari bisa menjadi bahasa universal kebaikan.
Baca Juga:Serunya OREO Enggak Pernah Berhenti: Hadirkan #TwistLickDance Pertama Bareng BABYMONSTER!Hari Kesehatan Mental Sedunia: Billy Martasandy Ajak Masyarakat Lebih Peka Terhadap Kesehatan Jiwa di Era Teka
Karena pada akhirnya, keringat yang menetes pagi itu bukan hanya hasil kerja otot, tetapi juga kerja hati. (Dam)
