Di Antara Tebing Purba dan Hammock di Langit, Hawu Pabeasan Menyimpan Cerita Alam serta Perlawanan

Sejumlah wisatawan tampak menikmati sensasi hammocking dan memanjat tebing di kawasan wisata alam Hawu Pabeasa
Sejumlah wisatawan tampak menikmati sensasi hammocking dan memanjat tebing di kawasan wisata alam Hawu Pabeasan, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Dok Jabar Ekspres/Suwitno
0 Komentar

Beberapa lembaga pendidikan dan komunitas pecinta alam rutin mengadakan kegiatan field trip di kawasan ini untuk mempelajari proses terbentuknya karst, siklus air tanah, serta keanekaragaman hayati yang tumbuh di antara batuan tandus.

“Anak-anak sekolah datang, kami jelaskan bagaimana karst terbentuk, kenapa harus dijaga. Dari sini mereka belajar bahwa batu ini bukan sekadar benda mati, tapi bagian dari sejarah bumi,” katanya.

Masyarakat sekitar yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Karst Hawu kini berupaya mengelola kawasan ini dengan konsep ekowisata. Mereka membuka jalur pendakian, menyediakan area berkemah, hingga menawarkan jasa pemandu lokal. Semua dilakukan secara mandiri dengan prinsip pelestarian alam.

Baca Juga:Update Kecelakaan Maut Cijambe Subang: 3 Orang Tewas dan 5 Luka-luka , Lalu Lintas Macet Hingga 5 KilometerBREAKING NEWS: Kecelakaan Maut di Cijambe Subang, Tiga Orang Tewas

“Wisata di sini kami kelola dengan sederhana. Tidak ada bangunan besar atau beton. Kami ingin pengunjung menikmati alam apa adanya, dan ikut menjaga kebersihannya,” katanya.

Salah satu momen paling dinantikan pengunjung adalah saat fajar menyingsing. Dari puncak Hawu, pemandangan matahari terbit di balik kabut Padalarang menjadi suguhan yang menenangkan. Sinar jingga pagi menembus sela-sela batu, menciptakan siluet tebing yang menawan.

Tak jarang, para fotografer profesional maupun pemburu konten media sosial datang hanya untuk mengabadikan momen itu.

“Bagi kami, pagi di Hawu itu magis. Semua yang datang ke sini biasanya jatuh cinta dan ingin kembali,” ucapnya.

“Selain itu, kawasan ini juga cocok untuk camping ground dan aktivitas keluarga. Di kaki tebing terdapat lahan datar yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda sambil menikmati suasana senja dengan latar dinding kapur yang menjulang,” sambungnya.

Namun, di balik keindahan itu, ada kekhawatiran besar. Aktivitas penambangan batu kapur di sekitar kawasan karst Citatah masih berlangsung dan perlahan menggerogoti keasrian alam yang menjadi daya tarik wisata.

Truk-truk pengangkut material kerap melintas di sekitar jalur menuju Hawu. Suara alat berat kadang terdengar dari kejauhan, mengganggu keheningan yang seharusnya menjadi ciri khas kawasan ini.

Baca Juga:Macan Tutul Jawa Gegerkan Hotel di Bandung, BKSDA: Diduga Masuk Lewat Saluran AirYeay! Internet TV Kini Hadir di ibis Bandung Pasteur – Menginap Jadi Makin Seru!

“Kami dari pokdarwis berusaha menjaga, tapi kalau tambang terus jalan tanpa pengawasan, percuma saja. Alamnya rusak, wisata pun mati,” tegas Deni.

0 Komentar