JABAR EKSPRES – Puluhan rumah warga di RT 2 dan RT 3, RW 13, Desa Ciburuy, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB) mengalami retak-retak.
Warga menduga kerusakan itu dipicu getaran dari aktivitas ekskavator yang tengah melakukan normalisasi Situ Ciburuy.
Ketua RW 13 Desa Ciburuy, Ahmad Kusnadi, mengatakan sedikitnya delapan hingga 14 rumah warga mengalami retak di berbagai bagian bangunan.
Baca Juga:Ekskavator Normalisasi Situ Ciburuy Ambles ke Lumpur, Warga Khawatir Tanah LongsorSekda Jabar Pastikan 42 Bangunan yang Terdampak Normalisasi Situ Ciburuy Dapatkan Kompensasi
“Betul, karena getaran, rumah retak-retak. Sudah ada 8 sampai 14 rumah yang kelihatan ada retak-retak,” kata Ahmad, Rabu (8/10/2025).
Ia menjelaskan, ada tiga unit ekskavator yang beroperasi di area Situ 2 Ciburuy. Salah satunya sempat ambles ke lumpur saat melakukan pengerukan.
Aktivitas alat berat itu, kata Ahmad, kerap melintas di sempadan situ yang berdekatan langsung dengan rumah warga, sehingga menimbulkan getaran cukup kuat.
“Yang retak itu bermacam-macam, ada di kamar, ruang tengah, sampai lantai dua rumah warga,” ujarnya.
Ahmad menyebut, pihaknya telah melaporkan kejadian tersebut kepada pemerintah desa. Warga berharap ada komunikasi antara kontraktor pelaksana dengan warga untuk membahas tanggung jawab atas kerusakan rumah.
“Minimal ada diskusi antara warga dan pelaksana proyek supaya jelas siapa yang bertanggung jawab,” tuturnya.
Meski demikian, Ahmad menegaskan bahwa warga tetap mendukung penuh kegiatan penataan Situ Ciburuy oleh pemerintah provinsi.
Baca Juga:Puluhan Rumah di Sempadan Situ Ciburuy Dibongkar, Warga: Jangan Secepat Ini!Pemprov Jabar Tata Ulang Situ Ciburuy, Pedagang Cemas Kehilangan Penghasilan
“Tidak ada penolakan, kami sepakat situ ini ditata biar lebih bagus dan rapi,” tandasnya.
Salah satu warga, Saripah, mengaku rumahnya mengalami retak di kamar, ruang tengah, dan teras setelah aktivitas ekskavator berlangsung.
“Sebelumnya ada retak kecil, tapi setelah ada ekskavator retakannya makin besar, terutama di kamar anak,” kata Saripah.
Ia meminta pekerjaan normalisasi dilakukan dengan memperhatikan keselamatan warga sekitar, mengingat kondisi tanah di sekitar Situ 2 Ciburuy cenderung labil.
“Tanah di sini tidak padat, jadi wajar kalau warga khawatir,” ujarnya.
Hal senada disampaikan warga lainnya, Dedi Supriadi (38), yang mengaku rumahnya juga terdampak.
“Belah-belah, di ruang tengah ada, di kamar juga ada. Sebelumnya tidak ada retakan. Pengennya ada yang bertanggungjawab,” pungkas Dedi. (Wit)
