Menurut dia, renovasi gedung-gedung tersebut akan menambah fasilitas kelas internasional di Bandung. “Bandung mah betul kata beliau (gubernur), harus menjadi kota event. Itu sebabnya pariwisata Kota Bandung fokus kepada intensif, convention, dan exhibition,” imbuhnya.
Sementara itu, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menekankan sejumlah fokus pembangunan Bandung. “Di Kota Bandung ini, tadi saya fokuskan, seluruh drainase harus segera dibersihkan. Sehingga tidak terjadi penyumbatan ketika hujan, airnya meluap dan jadi hitam. Itu yang pertama,” kata Dedi.
Ia menyebut, aliran sungai yang menjadi kewenangan provinsi atau Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) akan ditangani oleh pemerintah provinsi. Selain itu, Dedi menyoroti penataan bangunan agar tidak menghambat aliran air dan merusak estetika kota.
Baca Juga:Kuota 8 Persen Suporter Timnas Indonesia di Arab Saudi Tak IdealTerungkap! Alasan Mees Hilgers dan Marselino Tak Dipanggil Timnas Indonesia, Ternyata…
“Pasar-pasar segera ditata. Kemudian yang berikutnya adalah jalan. Jalan harus dibuat mulus, bergaris. Kemudian PJU-nya terang. Ini yang menjadi harapan kita,” ujarnya.
Dedi juga meminta pemerintah kota menambah jumlah tenaga kebersihan dengan memanfaatkan alokasi anggaran yang besar. “Sehingga Bandung nanti tumbuh menjadi kota yang paling bersih,” katanya.
Menurut dia, pemerintah provinsi juga akan mendorong Bandung menjadi pusat pertunjukan seni dan kuliner. Pemprov berencana membangun konser musik, gedung pertemuan berkapasitas 5–10 ribu orang, serta sarana olahraga.
“Sehingga nanti Bandung tumbuh lagi menjadi kota yang menjadi pusat kuliner, pusat pertunjukan seni, kemudian juga kota yang mencerminkan hamparan taman yang indah serta bangunan-bangunan heritage yang tertata,” kata Dedi.
Dia menyebut, anggaran Kota Bandung sekitar Rp 7 triliun cukup besar untuk mendukung pembangunan tersebut. Pemerintah provinsi menargetkan seluruh program tuntas pada 2027. “2027 sudah kelar semuanya. Karena sebentar lagi 2028,” ujarnya.
Dedi juga menyinggung soal transportasi publik di Kota Bandung. Menurut dia, karakter Bandung tidak bisa mengikuti pola kota besar lain. Karena jalan Bandung, katanya, tidak begitu besar. Kemudian banyak pohon.
Sementara itu, dirinya mencontohkan, pembangunan jalan tol Pasteur dan jembatan layang Pasupati juga dianggap mengurangi nilai estetika kota.
