Alasan pemilihannya bukan karena wilayah ini paling maju, tapi justru karena potensinya yang besar untuk tumbuh. Kawasan ini dekat dengan TPST Tegalsari, dan sudah memiliki Bank Sampah Unit (BSU) “Sari Asih” yang aktif sejak 2020.
Koordinasi dilakukan sejak awal November 2024, dimulai dengan dialog antara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Purwakarta dan pemerintah desa. Warga pun dilibatkan sejak awal—mereka tidak hanya diajak ikut, tapi juga diberi ruang untuk terlibat langsung.
Pelaksanaan dimulai dengan sangat sederhana. Ada dropbox untuk sampah daur ulang, ember untuk sampah residu, trashbag, stiker untuk rumah yang sudah memilah, dan gerobak sorong untuk mengambil sampah dari gang-gang kecil.
Baca Juga:Banyak Ditolak Warga, Ternyata Hanya 7 Kendaraan ini yang Boleh Pakai Sirene StroboTelkom Dukung Pengelolaan Sampah Desa Cijaura Bandung lewat Program GoZero%
Setiap Senin dan Kamis, sampah terpilah dikumpulkan. Dua kali seminggu, sampah ditimbang dan dicatat. Edukasi dilakukan langsung ke rumah-rumah, bukan sekadar tempel poster. Sampah organik diolah jadi kompos, yang anorganik disalurkan ke Bank Sampah Sari Asih. Sementara sisa makanan juga dimanfaatkan, tidak langsung dibuang begitu saja. Hasilnya Tidak Instan, Tapi Nyata: 71 Keluarga Sudah Mulai Pilah Sampah
Perubahan tidak terjadi dalam semalam. Namun berkat pendampingan yang intensif dan pendekatan yang humanis, hasilnya mulai terasa. Hingga Februari 2025, tercatat sebanyak 71 Kepala Keluarga (KK) di RW 05 Desa Tegalsari, Kec. Sukatani Kab. Purwakarta, telah aktif memilah sampah dari rumah.
Mereka memisahkan sampah ke dalam tiga kategori: organik, anorganik, dan residu—sebuah langkah sederhana namun bermakna besar dalam menciptakan sistem pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Meski secara angka belum tergolong masif, pencapaian ini merupakan tonggak penting dalam membangun kebiasaan baru di tengah masyarakat. Lebih dari sekadar statistik, keberhasilan ini mencerminkan tumbuhnya kesadaran warga bahwa pengelolaan sampah bukan hanya urusan pemerintah, tetapi tanggung jawab bersama.
Yang patut diapresiasi, dari kegiatan ini juga lahir sejumlah praktik baik (best practices) yang bisa direplikasi di wilayah lain. Mulai dari model pelibatan kader lingkungan, sistem insentif berbasis partisipasi, hingga format pelaporan dan evaluasi warga—semuanya terbukti efektif dalam mendorong perubahan perilaku.
