Terpengaruh Cuaca, Harga Pangan Jadi Tantangan Inflasi Kota Bandung

Terpengaruh Cuaca, Harga Pangan Jadi Tantangan Inflasi Kota Bandung
Pedagang mengambil cabai merah keriting untuk ditimbang di Pasar Kosambi, Kota Bandung. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Kepala Bagian Perekonomian Setda Kota Bandung, TB. Agus Mulyadi, mengatakan sektor pangan masih menjadi tantangan terbesar dalam menjaga inflasi di Bandung.

Menurutnya, sejumlah komoditas pangan sangat rentan berfluktuasi akibat faktor cuaca maupun distribusi.

“Kota Bandung sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah,” kata Agus, baru-baru ini.

Baca Juga:Ketua DPRD Kabupaten Bandung Renie Rahayu Tegaskan Ikuti Kebijakan Pusat Terkait Tunjangan Satwa Terancam Lapar, Pegawai Bandung Zoo Tuntut Penutupan Segera Diakhiri

Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah memperkuat cadangan pangan strategis dan menjalin kerja sama lebih erat dengan daerah penyangga.

“Jika distribusi terganggu, harga kebutuhan pokok bisa langsung terdampak,” imbuhnya.

Agus menjelaskan, inflasi yang terlalu tinggi akan menahan konsumsi masyarakat dan memperlambat roda perekonomian. Sebaliknya, inflasi terkendali membuat daya beli tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat tumbuh.

“Di Bandung, inflasi rendah telah memberi dukungan besar bagi UMKM, pariwisata, dan sektor jasa,” jelasnya.

Selain menjaga stabilitas harga, Pemkot Bandung fokus mengembangkan sektor unggulan. Pariwisata, UMKM, dan ekonomi kreatif terus didorong melalui penyelenggaraan berbagai event besar yang terbukti menggerakkan perekonomian kota.

“Digitalisasi UMKM juga menjadi prioritas, sehingga produk lokal bisa menjangkau pasar yang lebih luas, bahkan hingga tingkat nasional dan internasional,” kata Agus.

Namun dirinya optimistis pertumbuhan ekonomi Bandung akan semakin membaik. Peningkatan tingkat hunian hotel dan geliat pariwisata disebut menjadi indikator positif.

Baca Juga:Wujudkan Lingkungan Bebas Sampah, Pemkot Bandung Alokasikan Rp200 Juta untuk Tiap RWJalan Penghubung Ganjarsari–Cipada Bandung Barat Rusak Parah

“Harapan kami inflasi tetap terkendali, sehingga masyarakat tidak terbebani. Dengan kerja sama semua pihak, Bandung bisa tumbuh menjadi kota dengan ekonomi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan,” ucapnya.

Sebelumnya, pedagang beras di sejumlah pasar tradisional Bandung mengeluhkan kenaikan harga dalam beberapa bulan terakhir. Kenaikan berlangsung bertahap meski pasokan dinilai masih aman.

Andri (36), pedagang di salah satu pasar, mengatakan harga beras sudah naik hingga Rp1.000 per kilogram.

“Naik Rp200, lalu sekarang sudah sampai Rp1.000. Harga paling murah Rp14.000-Rp18.000. Waktu belum ada kenaikan masih Rp13.000,” ujarnya kepada Jabar Ekspres di kios dagangnya.

Dirinya menyebut kenaikan harga dipicu gagal panen. Saat ini, ia menunggu distribusi beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dari Bulog.

0 Komentar