Membaca Motif Tragis Pembunuhan Satu Keluarga di Indramayu Dari Perspektif Psikologis

Kasus pembunuhan satu keluarga yang terjadi di Indramayu belum lama ini mengguncang publik
Kasus pembunuhan satu keluarga yang terjadi di Indramayu belum lama ini mengguncang publik
0 Komentar

Tak hanya itu, kata Billy, faktor ekonomi pun tak bisa disepelekan. Ketika seseorang menghadapi tekanan finansial yang berat, seperti kehilangan pekerjaan, utang menumpuk, atau kehilangan penghasilan utama, stres berkepanjangan dapat berubah menjadi frustrasi mendalam.

“Kalau tidak punya akses ke konseling atau tempat bercerita, dan stigma sosial membuat orang enggan mencari bantuan, maka emosi negatif bisa menumpuk hingga suatu saat meledak,” tambah Billy. Salah satu miskonsepsi umum di masyarakat adalah menganggap pelaku kejahatan berat pasti “gila”. Padahal, menurut ahli psikolog di PT Martasandy Psychology Indonesia tersebut, kesehatan mental yang buruk tidak selalu berarti gangguan jiwa berat, tetapi bisa berarti ketidakmampuan individu dalam mengelola emosi, menghadapi tekanan, atau menyelesaikan konflik secara sehat.

“Banyak orang yang tidak mengidap gangguan jiwa, tapi tetap bisa melakukan kekerasan karena marah yang tak terkontrol, rasa malu yang membuncah, atau kekecewaan yang tidak bisa diolah dengan sehat,” ujar Aulia.

Baca Juga:Wagub Jateng Lepas Penerbangan Perdana Semarang-Kuala Lumpur, Masyarakat Sambut AntusiasPemprov Jateng Ringankan Beban Warga, Pangan Murah Diserbu Ribuan Masyarakat

Billy menekankan bahwa penggunaan zat adiktif seperti alkohol atau narkoba juga bisa menjadi pemicu, karena membuat individu kehilangan kendali diri. Pengaruh ini bisa memperburuk situasi psikologis yang memang sudah rapuh sejak awal. Di tengah tragedi, fokus tak hanya pada pelaku, tapi juga pada keluarga korban yang selamat atau ditinggalkan. Dalam kondisi seperti ini, pendekatan psikologis sangat penting untuk membantu mereka pulih secara emosional dan mental.

“Langkah awal adalah mendengarkan. Biarkan mereka marah, menangis, atau diam. Jangan paksa mereka untuk langsung menerima atau memaafkan. Proses duka itu tidak linear,” tegas Aulia.

Billy menambahkan bahwa dalam fase ini, dukungan nyata dari orang-orang sekitar sangat dibutuhkan. Bukan hanya ucapan semata, tapi kehadiran dan perhatian secara langsung. Libatkan profesional seperti psikolog trauma, terutama jika ada anak-anak yang kehilangan figur penting dalam hidupnya.

“Keluarga yang selamat bisa merasa hidupnya runtuh. Mereka kehilangan bukan cuma orang, tapi juga rasa aman. Itulah mengapa kita harus membangun kembali rasa stabil dan kepercayaan mereka terhadap lingkungan sekitar,” pungkasnya.

0 Komentar