JABAR EKSPRES – Tantangan regenerasi petani yang menghantui masa depan ketahanan pangan nasional menemukan secercah harapan di Kota Banjar. Di sini, sekelompok anak muda justru memilih mencangkul tanah, menanam benih, dan merawat harapan bahwa pertanian bisa menjadi profesi yang membanggakan dan menjanjikan. Mereka adalah Petani Milenial Kota Banjar, yang dengan semangat kolaborasi, menyambut Hari Tani Nasional dengan aksi nyata, bukan sekadar seremonial.
Di tengah arus deras itu, Petani Milenial tidak hanya memperingati Hari Tani, tetapi merayakannya dengan membangun kolaborasi strategis. Mereka menanam jagung di lahan seluas 1,5 hektare.
“Kami ingin menunjukkan bahwa generasi muda bisa menjadi bagian dari solusi, bukan hanya pengamat yang berpangku tangan,” tegas Ketua Petani Milenial Kota Banjar, Ramdhani Bin Rasikun, Rabu (3/9/2025).
Baca Juga:Strategi Terpadu Kota Banjar Wujudkan Lingkungan Bersih dan Berdaya, Sampah Jadi BerkahProgram Terpadu Berhasil Tekan Angka Anak Putus Sekolah di Kota Banjar
Bersama Pemerintah Kota (Pemkot) dan Kepolisian Resor (Polres) Banjar, mereka membangun sebuah sinergi yang berfokus pada pertanian berkelanjutan.
Program yang diusung bukan sekadar teori, melainkan implementasi nyata berupa pengembangan pertanian organik berbasis ekonomi kerakyatan, disertai dengan pelatihan intensif, pendampingan akses permodalan, dan pemanfaatan teknologi ramah lingkungan yang aplikatif.
Ramdhani mengungkapkan realita pahit yang dihadapi, profesi petani kerap dianggap sebagai pekerjaan kelas dua, tidak menjanjikan secara ekonomi, dan identik dengan kemiskinan. Stigma ini begitu kuat hingga banyak orang tua yang justru melarang anak-anaknya untuk meneruskan atau memasuki dunia pertanian.
“Petani dianggap tua, kotor, dan tidak menguntungkan. Padahal, di desa masih sangat banyak lahan yang bisa digarap dan justru membutuhkan sentuhan anak-anak muda yang melek teknologi,” katanya.
Ia memandang fenomena ini bukan sebagai isu sepele, melainkan ancaman serius bagi keberlangsungan pangan di masa depan.
“Kita sedang menghadapi krisis alih generasi petani. Ini bukan isu lokal Banjar saja, tapi ini adalah ancaman nasional. Jika tidak ada yang menggantikan petani-petani kita yang sudah sepuh, lalu siapa yang akan menanam padi untuk kebutuhan pangan kita sepuluh atau dua puluh tahun ke depan?” tegasnya.
Menghadapi tantangan besar ini, Ramdhani menekankan bahwa solusinya tidak bisa instan. Ia percaya kunci utama ada pada pendidikan dan pembentukan mindset sedini mungkin.
