Ia mengusulkan agar kurikulum pendidikan, mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP), Sekolah Menengah Atas (SMA), bahkan pesantren, mulai memasukkan materi-materi pertanian yang dikemas secara modern dan berbasis teknologi.
“Petani bisa cerdas, modern, dan sejahtera. Tapi citra itu harus dibangun dan dikenalkan sejak kecil, bahwa bertani itu keren dan penuh inovasi,” ujarnya.
Kini, dengan semangat gotong royong dan dukungan penuh dari berbagai sektor, Petani Milenial Kota Banjar ibarat menyalakan lilin di tengah gelapnya tantangan krisis regenerasi. Mereka tidak hanya sekedar bertani, tetapi juga aktif membangun narasi baru, mengubah paradigma, dan membuktikan bahwa bercocok tanam bukan lagi pekerjaan masa lalu, melainkan sebuah pilihan profesi yang menjanjikan untuk masa depan.
Baca Juga:Strategi Terpadu Kota Banjar Wujudkan Lingkungan Bersih dan Berdaya, Sampah Jadi BerkahProgram Terpadu Berhasil Tekan Angka Anak Putus Sekolah di Kota Banjar
“Mari kita selamatkan negeri ini dengan menjadi petani. Salam pertanian, salam dari petani milenial Banjar,” pungkas Ramdhani penuh keyakinan. (CEP)
