Megawati merasa yakin keempat anaknya bisa belajar dengan baik dan hidup sangat layak karena semua kebutuhan sekolah dan kebutuhan sehari-hari dicukupi oleh pemerintah, sehingga tidak khawatir dengan makan dan jam tidur anaknya karena ada pendamping kelas dan asrama yang akan menjaga mereka.
Ia merasa beruntung anak-anaknya mendapat kesempatan bisa belajar di sekolah rakyat secara gratis karena tanpa bantuan pemerintah tersebut, ia ragu bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga lulus.
Hal senada juga disampaikan oleh Abdul Kohar yang menitipkan anak kembarnya yang berusia 10 tahun di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember karena keterbatasan ekonomi dan tidak punya biaya untuk menyekolahkan kedua anak kembarnya itu.
Baca Juga:Esensi RAPBN 2026 Dalam Lanskap Kemandirian EkonomiBULOG Jabar Siap Serap Gabah Beras Petani Lokal
Ia mengaku sangat berat berpisah dengan dua anaknya itu, namun menyekolahkan anaknya di Sekolah Rakyat harus dilakukan agar anak-anaknya bisa sukses, kelak.
Pekerjaan serabutan yang dilakoni Abdul tidak bisa menjadi tumpuan kedua anaknya untuk tetap bersekolah hingga lulus nanti, sehingga dengan memasukkan kedua anaknya ke Sekolah Rakyat, itu merupakan pilihan yang terbaik karena sehari-hari kedua anaknya diasuh oleh neneknya.
Ia yakin anak laki-lakinya yang kembar itu bisa belajar dengan baik di sekolah rakyat dengan mendapat bimbingan dari guru-guru, pendamping kelas, dan pendamping asrama yang mengajarinya untuk hidup lebih mandiri.
Tidak hanya siswa normal, anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus dari keluarga miskin juga terdaftar masuk di Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember. Tercatat ada dua siswa yang sudah masuk, yakni anak yang low vision dan menderita kanker mata, sehingga kedua siswa itu mengalami gangguan penglihatan.
Salah satu anak disabilitas low vision, Muhammad Bintang Ramadhan mengaku senang bisa belajar di sekolah rakyat jenjang SMP secara gratis. Ia sempat putus sekolah selama setahun karena tidak ada biaya.
Keinginannya sangat kuat untuk tetap bisa belajar di bangku sekolah, meskipun dengan keterbatasan penglihatan, karena ingin menggapai cita-cita yang tinggi dan berharap bisa mengangkat derajat hidup orang tuanya kelak.
Ayahnya yang sehari-hari bekerja sebagai tukang sampah, tidak lagi mampu membiayai sekolahnya di madrasah, saat itu, sehingga terpaksa berhenti sekolah dan kini dirinya bersyukur ada sekolah rakyat, sehingga bisa melanjutkan sekolah di jenjang SMP.
