Ekonom UIN Sarankan Pelarangan Study Tour Diatur Lebih Cermat

Tak Digubris Dedi Mulyadi, Sopir Bus Pariwisata Jabar Bakal Demo Jilid II Pekan Depan!
Massa yang tergabung dalam Forum Solidaritas Para Pekerja Pariwisata Jawa Barat (P3JB) membentang spanduk di sela-sela bus saat aksi demonstrasi menolak kebijakan studi tur di depan Gedung Sate, Kota Bandung, Senin (21/7). (DIMAS RACHMATSYAH/JABAR EKSPRES)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Pakar Ekonomi dari Universitas Islam Negeri (UIN) Bandung Setia Mulyawan turut merespon terkait polemik larangan study tour yang berbuntut demo dari pekerja di sektor Pariwisata. Menurutnya, kebijakan harus diatur lebih cermat agar tidak menimbulkan efek dadakan.

Setia Mulyawan menjabarkan, kebijakan itu memang memiliki beberapa perspektif yang berdilema. Pertama dari sisi pariwisata kebijakan itu memang cukup merugikan. Khususnya yang terdampak adalah para sopir bus, pengusaha jasa perjalanan, PO Bus maupun pelaku UMKM. “Memang ini kontraproduktif, mengurangi pergerakan wisata dalam negeri, ” jelasnya.

Buntut larangan itu, segmen pelajar tak lagi melakukan study tour. Sehingga pesanan perjalanan ke PO Bus maupun jasa perjalanan juga terkikis.

Baca Juga:Akses Jalan Sementara Saleh Danasasmita Segera Dibuka, Wali Kota Dedie Rachim Tinjau LokasiPasokan Gas ke Industri Kembali Normal, PGN Pastikan Distribusi 100% Aman

Namun, lanjut Setia Mulyawan, nampaknya Gubernur Jabar juga ada pertimbangan lain yang diperhatikan hingga mengambil keputusan itu. Salah satunya terkait beban biaya yang harus ditanggung orang tua ketika ada kegiatan study tour. “Beliau (Gubernur.red) tak ingin membebani orang tua, ” jelasnya.

Pertimbangan lainnya adalah aspek keselamatan. Karena beberapa kali kejadian kecelakaan yang melibatkan pelajar yang dalam perjalanan study tour.

Setia Mulyawan menyarankan, kebijakan soal larangan study tour itu perlu diatur lebih cermat. Dengan harapan bisa menjadi jalan tengah kedua belah pihak.

Artinya roda pariwisata tetap berputar tapi juga tidak membebani orang tua murid. Kebijakan larangan yang mendadak itu juga bisa memberikan kejutan bagi sektor pariwisata.

“Diatur bertahap. Tidak dilarang seluruhnya. Lalu diatur soal biaya yang ditanggung orang tua, ” bebernya.

Setia Mulyawan juga menyarankan agar para pekerja di sektor pariwisata juga tidak berpangku tangan mengandalkan pasar pelajar. ‘Perlu menggarap pasar – pasar lain. Masyarakat yang memang ingin berwisata, ” tutup nya. (son)

0 Komentar