Bagi kolektor sejati, faktor orisinalitas seperti ini sangat penting, bahkan sampai pada tingkat yang bisa disebut “kolektor fanatik”. Mereka rela membayar mahal demi mendapatkan unit yang sepenuhnya asli.
4. Yamaha 125 ZR
Yamaha 125 ZR pertama kali diperkenalkan pada akhir 1990-an. Sayangnya, motor ini kurang diterima pasar karena harganya tergolong tinggi untuk ukuran motor bebek. Salah satu alasannya adalah statusnya sebagai motor Completely Built-Up (CBU) impor dari Malaysia, bukan rakitan lokal.
Motor CBU yang kurang laku di masa lalu kini menjadi incaran kolektor, sehingga harganya “digoreng” habis-habisan. Bahkan di Malaysia, negara asal perakitannya, harga 125 ZR bisa menembus ratusan juta rupiah. Tentu saja, di negara yang hanya mengimpor seperti Indonesia, harganya melonjak lebih tinggi lagi.
Baca Juga:5 Rekomendasi Mobil untuk Mahasiswa dan Pengemudi PemulaCara Membersihkan NIK KTP di SLIK OJK agar Bisa Mengakses Pinjol Kembali
Apakah fenomena ini masuk akal? Jika melihat populasinya yang terbatas serta spesifikasi unik yang dimilikinya, kenaikan harga Yamaha 125 ZR tergolong wajar. Berbeda dengan Yamaha Mio kuning, harga motor ini kemungkinan akan tetap bertahan di level tinggi.
5. Suzuki Satria FU CBU
Suzuki Satria FU adalah salah satu motor yang berjasa besar menyelamatkan Suzuki di pasar Indonesia. Pertama kali masuk ke Indonesia, motor ini didatangkan secara CBU. Karena laku keras, Suzuki kemudian memproduksi Satria FU secara lokal hingga sekarang, meskipun desainnya nyaris tidak banyak berubah selama bertahun-tahun.
Beberapa waktu lalu, Satria FU CBU sempat menjadi tren di media sosial. Banyak kreator konten yang mencoba merestorasinya, bahkan menghabiskan biaya hingga belasan atau puluhan juta rupiah. Hal ini tidak mengherankan, karena hampir semua komponen orisinalnya dibanderol mahal. Contohnya, stiker striping asli saja bisa dijual antara Rp2 juta hingga Rp4 juta.
Namun, hype Satria FU CBU tidak bertahan lama. Banyak orang menilai harga gorengannya tidak masuk akal karena secara keseluruhan, motor ini tidak memiliki keunikan mutlak dibandingkan Satria FU versi modern. Akibatnya, fenomena gorengan Satria FU CBU bisa dibilang kurang berhasil.
Banyak motor “gorengan” ini mencapai harga puncaknya saat pandemi COVID-19. Kala itu, banyak orang memiliki waktu luang sehingga iseng merestorasi motor langka, seperti Satria FU CBU, Yamaha Mio kuning, dan model lain.
