“Pemerintah pusat menetapkan pagu harga rumah subsidi sebesar Rp167 juta per unit. Kami hanya akan bermitra dengan pengembang yang sanggup membangun sesuai harga itu. Ini agar rumahnya benar-benar bisa dijangkau oleh MBR,” katanya.
“Meski berbagai program sudah diluncurkan, realisasi di lapangan tidak selalu berjalan mulus. Tantangan seperti keterbatasan lahan, biaya material bangunan yang fluktuatif, dan seleksi penerima manfaat menjadi pekerjaan rumah yang masih harus diatasi pemerintah daerah,” imbuhnya.
Selain itu, menurut pengamat kebijakan publik dari Universitas Pasundan, Rinaldi Fachri, perlu ada evaluasi berkala terhadap efektivitas program rumah subsidi agar tepat sasaran.
Baca Juga:Jelang HUT RI ke-80, Warga Bandung Barat Dilarang Galang Dana di Jalan!Waspada Wargi! Kasus DBD Kota Bandung Jadi yang Tertinggi se-Jawa Barat
“Yang penting bukan hanya membangun rumah, tapi memastikan rumah itu benar-benar dihuni oleh masyarakat yang berhak. Jangan sampai program ini disalahgunakan atau dimonopoli oleh spekulan,” katanya saat dihubungi secara terpisah.
Sementara itu, salah satu warga Padalarang, Hidayat (40), mengaku sudah 15 tahun tinggal di rumah kontrakan bersama istri dan tiga anaknya.
Sebagai pekerja swasta dengan penghasilan pas-pasan, ia menyebut memiliki rumah sendiri adalah impian yang terus tertunda.
“Dulu saya sempat menargetkan bisa ambil rumah KPR, tapi tiap tahun harga tanah naik, bunga bank juga tinggi. Akhirnya saya putuskan ngontrak dulu,” ujar Hidayat saat ditemui di rumah kontrakannya.
Menurutnya, mengikuti program rumah subsidi dari pemerintah pun tetap memiliki risiko. Ia khawatir tidak bisa memenuhi kewajiban cicilan jika ada kebutuhan darurat atau kondisi ekonomi memburuk.
“Kalau ikut program itu, saya takut nanti tidak bisa bayar cicilan tiap bulan. Kalau sampai rumah disita, itu malah jadi beban baru bagi keluarga,” ujarnya.
Karena itu, Hidayat memilih strategi alternatif. Ia menabung perlahan untuk membeli sebidang tanah terlebih dahulu, dengan harapan bisa membangun rumah secara bertahap di masa depan.
Baca Juga:Bupati Bandung Barat : ASN Tak Masuk 28 Hari Siap Dipecat!
“Saya tahu ini butuh waktu lama. Tapi saya ingin anak-anak saya punya tempat tinggal yang tetap. Itu tujuan utama saya sekarang,” tegasnya.
Di tengah gempuran pembangunan kota dan mahalnya harga properti, warga seperti Hidayat menggantungkan harapan pada langkah-langkah kecil. Baginya, rumah bukan sekadar atap untuk berteduh, melainkan simbol stabilitas, harga diri, dan masa depan anak-anaknya.
