“Maaf ibu-ibu potongan bukan untuk sekolah tapi untuk menutupi biaya SPP. Karena merasa menunggak uang ke sekolah akhirnya saya setuju dan alhamdulillah, saya tidak keberatan malah bersyukur,” tegasnya.
Yuli mengungkapkan, anaknya sebagai siswa penerima manfaat PIP diketahui mendapatkan Rp1.800.000, sehingga dirinya pun tak merasa keberatan apabila semua uang bantuan disalurkan untuk tunggakan kepada sekolah.
“Saya merasa masih punya tunggakan Rp5.000.000, lumayan jadinya berkurang tunggakan saya. Bahkan sekolah tidak mau semua dana PIP anak saya untuk disalurkan ke biaya sekolah, tapi masih disisihkan ke saya Rp400.000,” ungkapnya.
Baca Juga:KA Argo Bromo Anggrek Anjlok di Stasiun Pegadenbaru, Begini Kronologisnya! Dugaan SMAT KN Bandung Tak Ikuti Aturan Permendikbudristek, Abaikan 3 Dosa Besar Pendidikan?
Yuli menyampaikan, sisa dana PIP sebesar Rp400.000 itu dinilai sebagai kepedulian SMK Pasundan Rancaekek, agar bantuan yang diterima selain untuk meringankan biaya pendidikan, tapi supaya bisa dimanfaatkan pada kebutuhan lain.
“Bisa aja saya belanjakan, tapi saya tetap belikan untuk kepentingan anak. Apa beli perlengkapan, tapi anak saya baik dan pengertiannya bilang, untuk buku gak usah beli lagi, buku kelas 11 masih bisa dipakai,” imbuhnya.
Yuli pun mengakui, jika selama ini pihak SMK Pasundan Rancaekek telah banyak berjasa, dalam membantu memfasilitasi anaknya untuk tetap melanjutkan pendidikan, bisa mendapatkan haknya menuntut keilmuan.
“Intinya saya sangat berterima kasih kepada pihak sekolah atas perhatian dan kepeduliannya, masih tetap memberikan anak saya hak belajar. Ujian tetap boleh meski masih ada tunggakan dan sampai sekarang lancar tanpa dibedakan,” katanya.
“Terkait kabar yang beredar itu menurut saya ada kesalah pengertian oleh pihak luar, kita di sini orangtua sangat terbantu justru. Alhamdulillah justru saya tidak menyesal, saya bersyukur menyekolahkan anak di SMK Pasundan Rancaekek,” pungkas Yuli. (Bas)
Reporter: Yanuar Baswata
