Pedagang Ayam Cimahi Tertekan Perang Harga hingga Ancam Gelar Demo, Ini Kata Disdagkoperin

Pedagang Ayam Cimahi Tertekan Perang Harga hingga Ancam Gelar Demo, Ini Kata Disdagkoperin
Pedagang Ayam Cimahi Tertekan Perang Harga hingga Ancam Gelar Demo, Ini Kata Disdagkoperin
0 Komentar

“Toko itu kan baru buka lima hari. Kita tidak bisa melarang mereka berjualan. Itu marketing. Mereka ingin menarik perhatian masyarakat agar tahu bahwa toko mereka menawarkan harga tertentu,” jelasnya.

Ia mencontohkan hal serupa juga kerap terjadi di ritel modern seperti Superindo atau Yogya yang menawarkan berbagai promo menarik.

“Bukan berarti saya membela siapa pun, tapi ini soal bagaimana cara menarik pembeli. Apalagi kalau barang yang dijual lebih bersih, sudah dipilah-pilah seperti kepala, ceker, paha, ya tentu masyarakat akan tertarik,” tambahnya.

Baca Juga:Sampah Basah Cimahi Siap Meledak, Penimbangan di Sarimukti Bikin Panik DLHDukung Ketahanan Pangan Nasional, 8,6 Hektare Lahan Tidur di Kabupaten Bandung Diaktifkan!

Hella menegaskan, solusi terbaik adalah komunikasi langsung antar pedagang. Menurutnya, para pedagang bisa bermusyawarah untuk menyamakan persepsi dan strategi harga agar tidak saling menjatuhkan.

“Ini bukan soal pedagang ayam saja. Semua komoditas juga mengalami hal serupa. Gula misalnya, beda seratus perak saja ibu-ibu pasti pindah toko. Jadi pedagang harus pintar menyenangkan pembeli,” tandasnya.

Ia juga menekankan, harga ayam dari peternak berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, sehingga meski dijual Rp26.000 hingga Rp30.000, pedagang masih mendapatkan keuntungan.

“Jadi bukan soal harus diturunkan atau dinaikkan oleh pemerintah. Kuncinya ya komunikasi sesama pedagang. Jangan saling menjatuhkan,” tutup Hella. (Mong)

0 Komentar