BANDUNG – Keputusan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, yang memperbolehkan studi tour di lingkungan sekolah dengan syarat tidak terkait penilaian akademik, tidak wajib, dan mempertimbangkan kemampuan ekonomi orang tua, memicu respons beragam. Meski banyak pihak menyambut baik, kebijakan ini masih menyisakan celah yang bisa memicu ketimpangan sosial dan tekanan finansial.
Farhan menegaskan studi tour boleh digelar sebagai aktivitas pengalaman siswa, tapi tidak boleh membebani. “Selama tidak ada hubungan dengan nilai akademik, silakan. Bandung kota terbuka, masuk boleh, keluar boleh,” ujarnya.
Namun, pernyataan ini justru memunculkan pertanyaan: seberapa serius Pemkot Bandung mengawasi pelaksanaan kebijakan ini?Banyak orang tua, seperti Siti Rahmawati, ibu dari siswa SMP di Arcamanik, merasa lega dengan kebijakan ini. “Tahun lalu, studi tour ke luar kota biayanya lebih dari satu juta. Saya bingung, takut anak merasa tertinggal, tapi dana terbatas. Kalau opsional, ini lebih adil,” katanya kepada Jabarekspres, Selasa, 22 Juli 2025.
Baca Juga:Banyak Calon Siswa Cabut Berkas dari MAN 1 Bandung, Pihak Sekolah Kecewa!Bagi-Bagi Bir di Pocari Run 2025, DPRD Kota Bandung Minta Pemkot Sanksi Tegas Pelaku
Namun, di balik kelegaan itu, terselip kekhawatiran: akankah “opsional” benar-benar bebas dari tekanan sosial? Dede Supriatna, warga Ujungberung yang aktif di komite sekolah, menyebut kebijakan ini “bijak dan solutif”.
Menurutnya, studi tour positif selama tidak memicu perasaan minder bagi siswa yang tidak ikut. Tapi, tanpa pengawasan ketat, “opsional” bisa jadi sekadar jargon. Tekanan halus dari lingkungan sekolah atau teman sebaya sering kali lebih berat daripada kebijakan tertulis.
Pengamat pendidikan dari UPI, Yani Andriani, menyoroti urgensi pedoman teknis dari Dinas Pendidikan. “Tekanan tidak selalu dari sekolah, tapi dari dinamika kelas. Perlu SOP jelas: studi tour opsional, non-akademik, dan partisipatif,” tegasnya.
Ia juga mengusulkan destinasi lokal seperti museum atau UMKM kreatif di Bandung sebagai alternatif hemat biaya. Namun, usulan ini menggarisbawahi kelemahan mendasar: mengapa selama ini sekolah terpaku pada studi tour mahal ke luar kota, alih-alih memanfaatkan potensi lokal yang kaya?Kebijakan ini memang terdengar inklusif, tapi tanpa transparansi dan pengawasan ketat, risiko manipulasi tetap ada.
