Ungkapan sederhana ini mencerminkan adanya perubahan dari dalam diri anak, bukan hanya karena disuruh atau diberi tahu, tetapi karena ia memahami alasan di baliknya.
Ada pula yang menyampaikan bahwa setelah kegiatan ini, ia akan meminta orang tuanya untuk membawa air putih dari rumah agar tidak tergoda membeli minuman kemasan di kantin.
Inilah bentuk kesadaran yang tumbuh dari proses edukasi yang menyentuh sisi emosional anak.
Baca Juga:Game Upin Ipin Universe Resmi Rilis, Begini Cara Download dan PasangnyaKlaim Kode Redeem FC Mobile Hari Ini, Berkesempatan Dapat Hadiah Pemain OVR 111
Guru-guru di SDN 027 Cicadas juga memainkan peran penting dalam mendukung keberhasilan program ini.
Mereka membantu mengatur siswa, mendampingi selama kegiatan, dan bahkan ikut serta dalam beberapa sesi diskusi untuk memperkuat pemahaman siswa setelah kegiatan selesai.
Kolaborasi antara mahasiswa, guru, dan siswa menciptakan atmosfer pembelajaran yang harmonis dan membangun.
Guru juga diberikan materi edukasi dan panduan fun learning agar program ini dapat berkelanjutan dalam kegiatan UKS sekolah.
Berbagai aspek yang diamati demi mengevaluasi kegiatan ini, mulai pertama dari segi skor post-test yang ditingkatkan, tingkat keaktifan siswa selama kegiatan hingga perubahan-perubahan perilaku yang tampak muncul pasca kegiatan, namun di atas angka-angka dan data, hasil yang dilihat benar-benar menggembirakan.
Seluruh siswa terlibat dalam permainan dengan penuh semangat dan diskusi disampaikan dengan berapi-api.
Mereka hadir bukan hanya secara fisik namun juga dalam level emosional mereka bertanya, menjawab, dan menunjukkan rasa ingin tahu sejati.
Baca Juga:Mahasiswa UBK Edukasi Kesehatan Lewat Permainan: Cara Baru Tangkal Gondongan di Sekolah DasarHarlah PKB ke-27, Kang DS : Dari Ziarah, PKB Run hingga Bedah Rumah di 31 Kecamatan
Dari sisi pelaksana, kegiatan ini memberikan pelajaran berharga dalam praktik komunikasi dan promosi kesehatan berbasis empati.
Mahasiswa belajar bagaimana membangun kedekatan dengan anak-anak, memahami kebutuhan emosional mereka, serta menyampaikan informasi kesehatan dengan cara yang tidak kaku.
Ini membentuk kepekaan sosial dan profesionalisme sebagai calon tenaga kesehatan masyarakat.
Pendekatan humanis dalam program ini menjadi kunci utama keberhasilan.
Anak-anak tidak dianggap sebagai objek penerima informasi, tetapi sebagai individu yang berhak memahami dan membuat pilihan sendiri berdasarkan pengetahuan yang tepat.
Mereka diajak berdialog, diberi ruang untuk bertanya, dan didengarkan dengan penuh perhatian.
Kepercayaan yang dibangun selama kegiatan menjadikan proses edukasi ini tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga menciptakan fondasi kuat untuk perubahan perilaku jangka panjang.
