Layanan psikologi tidak hanya berupa terapi, tapi juga edukasi, pelatihan keterampilan emosional, dan promosi kesejahteraan psikologis di sekolah, kantor, hingga komunitas.
Psikolog lainnya dari tim yang sama, Aulia Ainunniswah, S.Psi., M.M, menjelaskan bahwa ada lima alasan umum mengapa banyak orang masih takut atau enggan menemui psikolog:
Kurangnya edukasi tentang kesehatan mental Banyak gangguan mental disalahpahami sebagai akibat kurang ibadah, kurang bersyukur, atau lemahnya keimanan. Takut dicap “gila”, budaya “selalu kuat”, takut dijauhi atau dihakimi, kurangnya keyakinan terhadap profesi psikolog.
Baca Juga:Pengamat Sorot Lemahnya Keamanan Aset Pemkot BandungBandung Siaga! Pemkot Perketat Identifikasi Bayi Baru Lahir di Semua RS
“Padahal psikolog juga bisa membantu dalam kondisi yang ringan. Misalnya saat seseorang merasa cemas, overthinking, sulit tidur karena tekanan, atau merasa tidak mampu mengambil keputusan. Itu semua bisa dibantu oleh psikolog,” jelas Aulia.
Ia juga menekankan bahwa merawat kesehatan mental bukanlah sesuatu yang memalukan. Justru itu adalah bentuk cinta dan kepedulian terhadap diri sendiri.
Hari ini, profesi psikolog semakin berperan dalam kehidupan masyarakat, tak hanya sebagai terapis, tetapi juga edukator dan pendamping dalam berbagai setting kehidupan.
Di banyak perusahaan, sekolah, hingga instansi pemerintahan, psikolog kini dilibatkan dalam pelatihan keterampilan sosial, manajemen stres, hingga pencegahan burnout dan kekerasan.
PT Martasandy Psychology Indonesia, sebagai salah satu institusi layanan psikologi di Indonesia, terus berupaya mendekatkan layanan psikologi kepada masyarakat.
Harapannya, semakin banyak masyarakat yang menyadari bahwa psikolog bukan hanya untuk kondisi “darurat” mental, tetapi juga untuk menjaga kualitas hidup dan kebahagiaan sehari-hari.
