JABAR EKSPRES– Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Desa Sariwangi, Kabupaten Bandung Barat, tetap teguh menjaga tradisi leluhur.
Peringatan Tanggap Warsa 1 Sura 1959 Saka Indonesia yang digelar di Gang Pasewakan, Pasewakan Wangun Sari Jati Mandiri, pada Senin (14/7/2025) malam, menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai budaya warisan leluhur masih hidup dan dijunjung tinggi.
Dengan mengenakan pakaian adat Sunda (pangsi), warga tampak khidmat mengikuti prosesi. Di tengah-tengah acara, tampak hasil bumi masyarakat yang disusun rapi, lengkap dengan sesajen.
Baca Juga:Sektor Kerajinan Optimis Lebih Kebal di Tengah Ketidak Pastian GlobalResmi Beroperasi, Pemerintah Bangun Sekolah Rakyat untuk Atasi KemiskinanÂ
Bagi mereka, sesajen bukanlah praktik mistis seperti yang kerap disalahartikan, melainkan simbol syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta penghormatan kepada jasa para leluhur.
Koordinator Aliran Kebatinan Perjalanan Provinsi Jawa Barat, Kiki Tarki, meluruskan pemahaman yang keliru mengenai sesajen dan ajaran Sastra Jendra Rahayu Ningrat.
“Sastra Jendra itu bahan kita, semua bangsa di dunia ini membutuhkannya. Bukan magis atau hal mistis. Itu ciptaan Tuhan. Dan budaya yang disebut oleh pemerintah sebagai budaya luhur itu, pada dasarnya mengandung nilai-nilai pendidikan, petuah, dan panduan hidup bagi anak-cucu,” tegasnya saat ditemui Jabar Ekspres.
Menurutnya, akar budaya bangsa berasal dari budaya suku-suku yang tersebar di seluruh Nusantara. Sastra Jendra, dalam pandangannya, adalah ilmu pengetahuan luhur yang diwariskan kepada makhluk Tuhan agar hidup selaras dengan alam dan sesama manusia.
“Ada Sastra Jendra, ada tulisan rumah agung. Itu semua adalah warisan nilai, bukan benda mati. Tidak ada pabrik pisang atau jeruk, tapi ada alam yang menghasilkan. Itu jati diri,” lanjutnya.
Pisepuh Aliran Kebatinan Perjalanan Kabupaten Bandung Barat, Suwardi, menekankan bahwa sesajen adalah bentuk teladan dari para leluhur.
“Itu hanya contoh. Sesajen bukan untuk cucunya saja, tapi untuk semua. Filosofinya adalah mengingatkan agar kita tidak menyalahkan, tapi menyelamatkan. Semua tergantung, apakah orang yang akan diselamatkan itu bisa menerima saran atau tidak,” tuturnya.
Baca Juga:MPLS di Sekolah Darurat, Warga Cibedug Bandung Barat Menunggu Kepedulian Nyata PemerintahJalan Sangkuriang Barat Cimahi Ambles Usai Hujan Deras, Arus Lalu Lintas Dialihkan dan Usaha Warga Lumpuh
Lebih jauh, Suwardi menyinggung soal gotong royong yang mulai pudar dalam kehidupan masyarakat saat ini.
“Kegiatan ini dari gotong royong, dan kalau ke depan kita masih diberi nikmat, maka gotong royong harus dipertahankan. Jangan sampai hilang. Di kita, gotong royong hampir punah,” ucapnya prihatin.
