Nilai-nilai gotong royong yang melekat dalam tradisi ini tidak hanya menjadi pondasi sosial masyarakat, tetapi juga bagian dari pengetahuan hakiki yang menjunjung kejujuran, belas kasih, hidup rukun, serta mendahulukan kepentingan umum di atas pribadi.
Pengetahuan yang diajarkan para leluhur bukan hanya sebatas spiritualitas, tapi juga mencakup perilaku sosial dan kebangsaan.
Seperti tidak mengakui hak milik orang lain, mengendalikan nafsu, menahan amarah, serta hidup rukun dalam bingkai Pancasila dan UUD 1945.
Baca Juga:Sektor Kerajinan Optimis Lebih Kebal di Tengah Ketidak Pastian GlobalResmi Beroperasi, Pemerintah Bangun Sekolah Rakyat untuk Atasi Kemiskinan
Dengan gelaran ini, warga Sariwangi tidak hanya mengenang sejarah, tetapi juga menghidupkan kembali semangat persatuan dan kebudayaan.
Di tengah zaman yang serba cepat dan instan, mereka memilih berjalan perlahan, namun pasti dengan pijakan yang kuat pada akar budaya sendiri. (Mong)
