Mereka terbiasa disuapi terus-menerus, tetapi tidak pernah diberi alat atau bekal untuk mandiri. Sekali lagi, hal ini tidak lepas dari tujuan politis, terutama menjelang kampanye pemilu.
Karena jika bantuan diberikan dalam bentuk edukasi dan pemberdayaan, yang memungkinkan masyarakat memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri, maka bansos-bansos instan itu akan kehilangan daya tarik politiknya.
Selama lapangan pekerjaan masih sulit didapat, jaminan sosial tidak layak, dan korupsi masih marak, maka sistem bansos akan tetap seperti ini, salah sasaran, tidak efektif, dan, seperti yang kita lihat sekarang, digunakan untuk top up judi online.
Baca Juga:PoliceTube dan Fenomena Aplikasi Pemerintah yang Buang-Buang AnggaranPanduan Lengkap Beasiswa Unggulan 2025 Kemendikbudristek Program S1, S2, S3
Tentu saja kita boleh marah kepada masyarakat yang menyalahgunakan dana bansos untuk berjudi. Itu adalah kesalahan besar. Tapi kemarahan itu tidak cukup jika hanya diarahkan ke masyarakat bawah saja.
Kita juga harus marah kepada pemerintah, yang hingga saat ini belum mampu mencegah penyalahgunaan dana bansos secara sistematis. Padahal, peran pemerintah di sini sangat krusial.
Sebagai masyarakat, kita tidak punya kekuatan yang besar. Mungkin satu-satunya hal yang bisa kita lakukan saat ini adalah terus bersuara. Suarakan setinggi-tingginya, sebanyak-banyaknya, agar pemerintah mau mendengar dan bertindak.
Karena sangat disayangkan jika negara ini terus-menerus kalah oleh praktik judi online. Masa iya, negara bisa kalah dari para bandar?
