Ketika Bansos Jadi Modal Judi Online, 10 Juta Rekening Dibekukan

Bansos Jadi Modal Judi Online
Bansos Jadi Modal Judi Online
0 Komentar

Dari jutaan penerima bansos yang salah sasaran, hal yang paling memprihatinkan adalah temuan bahwa ratusan ribu rekening ternyata aktif digunakan untuk bermain judi online. Bagaimana bisa diketahui? Tentu saja, terlihat jelas dari aktivitas rekening mereka, yang secara rutin melakukan top up ke berbagai situs judi online.

Bayangkan, 7 juta kali transaksi dengan total deposit hampir Rp900 miliar. Artinya, ada ratusan ribu orang yang seharusnya tergolong miskin, justru sedang kecanduan judi dengan menggunakan uang bantuan negara, yang bersumber dari pajak rakyat.

Saya pribadi tidak bisa menyalahkan jika banyak pihak merasa marah melihat kenyataan ini, baik kepada pemerintah maupun kepada masyarakat yang menyalahgunakan dana tersebut. Meski mereka sering disebut sebagai korban judi online, saya merasa istilah itu tidak sepenuhnya tepat.

Apakah Mereka Tidak Sadar?

Baca Juga:PoliceTube dan Fenomena Aplikasi Pemerintah yang Buang-Buang AnggaranPanduan Lengkap Beasiswa Unggulan 2025 Kemendikbudristek Program S1, S2, S3

Sebetulnya mereka melakukan itu secara sadar. Apakah mereka begitu bodoh hingga berpikir akan menang dan menjadi kaya melalui judi online? Mungkin terdengar naif, tapi jawabannya bisa saja “ya”.

Bagi sebagian dari mereka, judi dianggap sebagai satu-satunya cara cepat untuk mendapatkan uang. Dengan gaji yang pas-pasan, atau bahkan tidak memiliki pemasukan sama sekali, ditambah utang yang menumpuk, mereka akhirnya mencari pelarian. Hiburan mereka adalah ponsel, dan dari sanalah semua bermula.

Lalu muncul pertanyaan, “Kuota internetnya dari mana?” Mungkin mereka menumpang Wi-Fi orang lain, kita juga tidak tahu. Yang jelas, algoritma media sosial mereka terus menerus membombardir mereka dengan iklan atau konten yang mempromosikan judi online.

Akhirnya, kondisi mental yang tertekan, ekonomi yang sulit, dan eksposur terus-menerus dari algoritma digital, menjadi kombinasi yang sempurna. Maka ketika kesempatan muncul, mereka tergoda. Dan kita pun berada di titik ini, dimana bantuan sosial negara justru berputar dalam lingkaran perjudian.

Bahkan saat saya berbicara soal ini, saya tidak yakin mereka yang terlibat akan mendengarkan. Karena dari sisi psikologis dan situasi hidup yang mereka alami, semua faktor memang mendukung mereka untuk terus berada dalam lingkaran ini.

Apakah Mereka Bodoh?

0 Komentar