Jika perusahaan sebesar Gudang Garam saja mulai melakukan pengereman mendadak, itu artinya ada tekanan besar yang membuat mereka tidak bisa lagi beroperasi seperti biasa.
Penyebab Perusahaan Rokok Gudang Garam Terpuruk
Untuk memahami mengapa Gudang Garam bisa berada dalam kondisi seperti sekarang, kita perlu melihat realitas utama yang terjadi: penjualan rokok menurun.
Meskipun mayoritas pria dewasa di Indonesia masih merokok, daya beli masyarakat saat ini sedang stagnan. Di sisi lain, harga rokok terus meningkat akibat kebijakan baru dari Kementerian Keuangan terkait Harga Jual Eceran (HJE) yang kembali dinaikkan mulai Januari 2025. Akibatnya, bagi sebagian orang, rokok menjadi semakin tidak terjangkau, dan konsumen mulai lebih selektif dalam membeli rokok.
Baca Juga:Aplikasi AMV Mengklaim Legal dan Punya Kantor Tapi Penghasil Uang Skema Ponzi7 HP 5G Layar AMOLED 120 Hz Murah Terbaik 2025, Mulai Rp2 Jutaan!
Ketika rokok resmi semakin mahal, rokok ilegal justru semakin merajalela. Bayangkan saja, dalam lima bulan pertama tahun 2025, Bea Cukai Jawa Tengah dan DIY telah menyita 61 juta batang rokok ilegal. Ini menunjukkan bahwa peredaran rokok tanpa cukai semakin meluas, dengan harga yang tentu jauh lebih murah. Rokok ilegal ini menjadi pesaing langsung bagi pabrikan resmi seperti Gudang Garam.
Diduga kuat, tingginya harga rokok resmi mendorong banyak konsumen untuk beralih ke produk ilegal tersebut. Penjualan rokok Gudang Garam pun mengalami penurunan tajam, baik di pasar ekspor maupun domestik. Penjualan ekspor Gudang Garam turun 12,1% dibandingkan tahun 2023, sementara penjualan dalam negeri turun 17% pada tahun 2024. Artinya, perusahaan ini dihantam dari dua sisi sekaligus: kalah bersaing di pasar domestik karena serbuan rokok ilegal, dan permintaan pasar luar negeri yang semakin melemah.
Di saat yang sama, tren pasar juga mulai bergeser ke arah rokok elektrik atau vape. Gudang Garam masih bertahan di produk rokok konvensional dan belum memiliki produk andalan di segmen rokok elektrik. Padahal, para pesaingnya sudah mulai menggarap pasar ini sejak beberapa tahun lalu. Situasi ini mengingatkan pada kasus Nokia yang terlambat beradaptasi saat smartphone mulai naik daun, lambat berinovasi dan akhirnya tertinggal.
Jika perusahaan sebesar Gudang Garam terus-menerus gagal menjual produk, tidak mampu berinovasi, dan terus tergerus oleh pesaing ilegal maupun perubahan tren pasar, maka kebangkrutan bukan sekadar kemungkinan, melainkan bisa menjadi soal waktu saja.
