JABAR EKSPRES – Masih ingat dengan minuman Power F? Atau Panther? Atau mungkin sekarang kalian lebih familiar dengan Red Bull, Prime, atau Monster? Semua itu adalah minuman yang mengklaim dirinya sebagai minuman berneregi.
Katanya, saat kalian meminum minuman berenergi ini, kalian akan langsung merasa seperti Hercules, mampu melakukan hal-hal gila seperti dalam iklan Red Bull, atau mendadak penuh semangat seperti yang digambarkan dalam iklan Power F, Panther, maupun Torpedo.
Namun kenyataannya, kalian telah tertipu. Industri ini sejatinya hanya menjual candu. Kok bisa? Inilah sisi gelap dari industri minuman yang disebut-sebut sebagai “minuman berenergi”. Dan kali ini, kami akan membahasnya secara lengkap.
Baca Juga:7 HP Terbaru 2025 dengan Baterai di Atas 5000 mAh, Resmi Rilis di IndonesiaSmadav Pernah Jaya, Tapi Kenapa Sekarang Mulai Dilupakan?
Sejarah Minuman Berenergi
Sebelum masuk ke pembahasan lebih jauh, perlu diketahui bahwa industri minuman berenergi telah lama dirintis oleh para pemain besar yang kita kenal saat ini, seperti Red Bull dan Monster Energy. Kedua perusahaan ini sudah berkecimpung di industri minuman berenergi sejak lama, bahkan sejak era 1960-an.
Salah satu pionirnya adalah Lipovitan D, yang memperkenalkan produk minuman berbasis vitamin B, taurin, dan kafein, serta dipasarkan sebagai “obat” untuk melawan rasa lelah. Namun sebenarnya, produk minuman berkafein yang menyegarkan dan membuat tubuh tetap terjaga ini sudah ada sejak awal tahun 1900-an.
Pada masa itu, kafein masih dianggap zat yang aneh dan berbahaya. Bahkan sempat ada anggapan bahwa kafein adalah narkoba versi “silent”. Salah satu gugatan besar terhadap penggunaan kafein kala itu ditujukan kepada perusahaan Coca-Cola. Namun, Coca-Cola berhasil membuktikan di pengadilan bahwa kafein tidak berbahaya, dan akhirnya memenangkan kasus tersebut pada tahun 1911.
Akan tetapi, meskipun Coca-Cola memenangkan kasus tersebut, pada tahun 1916 perusahaan ini justru menurunkan kadar kafein dalam produknya. Selain itu, mereka juga membayar semua tuntutan dari pemerintah Amerika Serikat agar kasus tersebut dinyatakan selesai. Hal ini tentu sedikit mencurigakan.
Sejak saat itu, kafein tidak lagi dianggap sebagai zat yang berbahaya atau mencurigakan. Keberhasilan Coca-Cola dalam menjual produk-produk minuman bersoda berkafein membuka jalan bagi munculnya berbagai produk lain yang juga mengandung kafein, mulai dari berbagai jenis soda seperti Coca-Cola, Pepsi, dan lain-lain.
