Di tengah tekanan angka pengangguran, Pemkot Bandung rutin menggelar job fair untuk menjembatani pencari kerja dan dunia usaha. Beberapa hari lalu, 46 perusahaan berpartisipasi dengan menyediakan 2.600 lowongan kerja.
“Job fair bukan seremoni. Kami hanya mengundang perusahaan yang memang membuka lowongan. Setelah daftar, pencari kerja akan dipanggil langsung oleh perusahaan untuk tes dan wawancara,” ungkapnya.
Andri mengungkapkan, lewat laporan beberapa perusahaan yang telah mengikuti gelaran job fair sebelumnya. Sebanyak 300 warga Kota Bandung yang mengikuti kegiatan tersebut berhasil lolos mendapat pekerjaan.
Baca Juga:Bandung Barat 18 Tahun, Jeje Ritchie: Arah Baru, Semangat LamaAdhitia Yudistira Ancam Bongkar Bangunan Liar di Bantaran Sungai Cigugur yang Kembali Kotor
Selain itu, Job fair kini didorong lebih profesional, bahkan bekerja sama dengan Bursa Kerja Khusus (BKK) dari SMK dan universitas seperti UNPAD dan Universitas Maranatha. Namun tetap ada ganjalan, proses rekrutmen panjang dan minimnya kecocokan skill antara lulusan baru dan kebutuhan perusahaan.
Melihat keterbatasan serapan tenaga kerja di sektor formal, pemerintah Kota Bandung kini mulai memfokuskan program pelatihan dan stimulus pada wirausaha baru.
“Kita melatih warga untuk membuat produk inovatif. Salah satunya onde telur asin, hasil dari pelatihan kewirausahaan chef. Ini bentuk adaptasi warga kita terhadap pasar,” ucapnya.
Bahkan diakui Andri, penurunan TPT dari 8,8% di 2023 ke 7,4% di 2024 sangat dipengaruhi oleh pertumbuhan UMKM dan padatnya arus wisatawan yang menciptakan demand sektor informal mulai dari kuliner hingga jasa penginapan.
Namun, yang menjadi tantangan adalah ribuan lulusan SMA dan SMK di Kota Bandung tiap tahun masuk pasar kerja tanpa bekal kompetensi yang sesuai kebutuhan industri. Mereka bersaing tidak hanya dengan lulusan universitas, tapi juga pekerja berpengalaman yang terkena PHK.
Dalam kondisi seperti ini, pengangguran muda berisiko menjadi struktural, terlalu muda untuk pengalaman, namun terlalu lama tidak bekerja untuk dianggap segar. Sayangnya, data detail pengangguran berdasarkan usia dan jenjang pendidikan belum dirilis secara spesifik ke publik oleh BPS. (Dam)
