Dialog Dini Hari dan ‘Suara yang Bertumbuh’ Usai Perjalanan yang Lama

Grup musik Dialog Dini Hari tampil dalam tur Suara Yang Bertumbuh di Gedung Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Grup musik Dialog Dini Hari tampil dalam tur Suara Yang Bertumbuh di Gedung Rumentang Siang, Jalan Baranang Siang, Kota Bandung beberapa waktu lalu. Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Keputusan memilih kota tur pun, kata Dadang, tidak berdasarkan kedekatan personal. Meskipun dirinya mengaku pernah tinggal di Cimahi, pemilihan Bandung bukan karena alasan itu.

Mereka memilih kota-kota secara acak dan menghindari kalkulasi pasar. “Kami juga memilih Gresik, sekalipun tidak pernah ke sana,” ujarnya sambil tertawa.

Bahkan, Dadang menjelaskan bahwa kerap tampil di hadapan penonton yang sama sekali belum pernah mendengar musik mereka. “Ini challenge banget. Saat bermain bukan di depan fans, ya, kami harus tampil bagus saja,” jelasnya.

Baca Juga:DLH Cimahi Ingatkan Warga Penderita Asma Tetap Waspada Meski Udara Masih di Batas AmanPedagang Pasar Bogor Masih Bebas Berjualan, Ini Kata Satpol PP!

Mereka juga tidak terlalu ambil pusing soal strategi pemasaran. Yang penting, kata mereka, fasilitas memadai dan ada dukungan tim lokal. Soal Rumentang Siang, Dadang menyebut, “Gedung ini tidak pernah dipakai. Wah unik, jadi pengen kami ke sini.”

Soal nama tur yang terdengar filosofis, Suara yang Bertumbuh, Dadang menyelipkan makna sosial yang tersirat dalam tiap perjalanan mereka. Dia membandingkan karya seni dengan souvenir di tempat wisata yang kadang hanya menjadi benda hias tanpa makna.

Lantas dirinya berharap musik mereka bukan sekadar dekorasi. “Roots folk itu juga harus selalu dekat dengan kondisi sosial,” ucapnya. Dirinya melanjutkan dengan nada getir, “Indonesia lagi enggak seru.”

Bagi Dadang, seni tetap bisa menjadi gerakan, walaupun dirinya tidak ingin dilabeli sebagai aktivis. Dia memilih menyampaikan kritik atau pesan sosial lewat karya, bukan orasi. Ia yakin, pendengar mereka cukup cerdas untuk menangkap maksud dari lagu-lagu yang ia tulis.

“Art pada akhirnya bukan sekadar dekorasi, tapi bisa juga sebagai movement,” katanya. “Tapi aku juga tidak seaktivis itu, aku ingin menghargai orang yang datang, membayar tiket.”

Menjelang akhir wawancara, pertanyaan yang lebih reflektif diajukan: suara seperti apa yang dibutuhkan Indonesia hari ini? Dadang tertawa kecil sebelum menjawab. “Tahi banget ini (pertanyaan),” candanya.

Dia berharap tur ini bisa selesai dengan baik, pulang dengan hati yang gembira, dan semua kota yang mereka sambangi berjalan lancar. Namun di balik itu, dia menyimpan pandangan yang cukup kritis.

0 Komentar