Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya

Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya
Mengapa Malaysia Tak Lagi Menarik bagi Pekerja Migran Indonesia? Ini 5 Alasannya
0 Komentar

Sebaliknya, di Hong Kong, pekerja rumah tangga (PRT) dapat memperoleh gaji mulai dari HKD 4.870 atau sekitar Rp9,8 juta per bulan, dengan jaminan hari libur dan perlindungan hukum yang lebih kuat. Taiwan juga menawarkan gaji rata-rata sekitar Rp10 juta bagi pekerja di sektor manufaktur, ditambah dengan tunjangan kesehatan dan fasilitas akomodasi.

Menurut Dr. Anisa Hidayah dari Migrant Care, upah di Malaysia sudah tidak lagi kompetitif dibandingkan negara lain, terutama untuk pekerja yang memiliki keterampilan. Saat ini, banyak pekerja Indonesia yang memiliki kualifikasi dan keahlian yang sesuai dengan pasar kerja di Jepang atau Korea Selatan, yang menawarkan gaji dua hingga tiga kali lipat lebih tinggi dibandingkan Malaysia.

  1. Kondisi Kerja dan Perlindungan Hukum

Isu perlindungan pekerja juga menjadi faktor penting dalam penurunan minat terhadap Malaysia. Banyak PMI, khususnya pekerja rumah tangga dan pekerja di sektor perkebunan, menghadapi berbagai persoalan, seperti jam kerja yang berlebihan, kekerasan fisik, hingga penahanan gaji. Laporan Human Rights Commission (Human RCH) pada tahun 2022 mencatat bahwa 30% PRT di Malaysia mengalami pelanggaran hak, termasuk tidak adanya kontrak kerja yang jelas.

Baca Juga:Lebih Tipis dari Samsung! Inilah Infinix Hot 60 Pro Plus Harga Rp2 JutaanJangan Sembarang Hubungkan WhatsApp ke Aplikasi Penghasil Uang seperti Task All

Meskipun Malaysia telah meratifikasi beberapa konvensi Organisasi Perburuhan Internasional (ILO), implementasi perlindungan bagi pekerja migran masih dinilai lemah. Sebaliknya, negara-negara seperti Hong Kong memiliki regulasi yang ketat terkait perlindungan PRT, termasuk hak atas hari libur mingguan dan batasan jam kerja. Jepang melalui program Technical Intern Training Program juga memberikan pelatihan keterampilan serta jaminan sosial kepada para pekerja migran. Hal ini membuat para pekerja Indonesia merasa lebih aman dan dihargai ketika bekerja di negara-negara tersebut.

  1. Peningkatan Keterampilan dan Aspirasi Pekerja

Peningkatan akses terhadap pendidikan dan pelatihan vokasi di Indonesia turut memengaruhi preferensi para pekerja migran. Program pelatihan yang diselenggarakan oleh Balai Latihan Kerja (BLK) serta kerja sama dengan negara-negara seperti Jepang telah meningkatkan keterampilan tenaga kerja Indonesia, terutama di bidang teknologi, kesehatan, dan manufaktur.

Pada tahun 2023, lebih dari 15.000 pekerja Indonesia dinyatakan lulus uji kompetensi untuk bekerja di Jepang, meningkat 25% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa peningkatan keterampilan dan aspirasi para pekerja turut mendorong mereka untuk memilih negara tujuan dengan kondisi kerja, upah, dan perlindungan yang lebih baik.

0 Komentar