“Seru banget. Jadi makin sadar kalau sampah itu harus dipilah, bukan cuma dibuang begitu saja,” ucapnya dengan mata berbinar.
Bagi Aqila, aksi pilah sampah bukan cuma kegiatan sekolah yang bersifat seremonial. Di balik keseruannya memisahkan plastik dari sisa makanan, ada kesadaran yang perlahan tumbuh: bumi ini adalah rumah bersama.
“Karena sejatinya, menjaga bumi bukan tugas satu-dua orang, melainkan tanggung jawab bersama,” ujarnya lugas, namun sarat makna.
Baca Juga:Lakukan Kolaborasi, HJB Run 2025 Jadi Event Sejarah Kebersamaan Kota dan Kabupaten BogorGarap Lahan Sejak Zaman Penjajahan dan Tengah Proses REDIS, Warga Persoalkan Pihak Ini Coba Kuasai Tanah!
Pernyataan sederhana dari Aqila itu mencerminkan bagaimana generasi muda saat ini mulai menyadari pentingnya peran kolektif dalam merawat lingkungan. Ia merasa, apa yang dilakukannya bersama teman-teman di halaman sekolah meski hanya memunguti sampah dan memilahnya adalah bentuk nyata kepedulian.
Aqila juga menyebutkan, kegiatan seperti ini membuatnya lebih peka terhadap kebiasaan sehari-hari, mulai dari tidak membuang sampah sembarangan hingga mengajak orang di sekitarnya untuk lebih peduli pada lingkungan.
“Kalau semua orang mulai dari hal kecil, efeknya bisa besar banget. Jadi ya, kita harus saling jaga,” tambahnya.
Dari tangan-tangan kecil siswa seperti Aqila, harapan tentang masa depan yang lebih bersih dan berkelanjutan seolah mendapatkan ruang tumbuhnya. Sebab menjaga bumi, memang bukan hanya tentang aksi besar-besaran, melainkan langkah kecil yang dilakukan bersama.
“Tidak besar, tapi berarti,” tutupnya optimis. (Mong)
