2026 Akan Turun Salju di Indonesia?

Ilustrasi turun salju(pixabay.com)
Ilustrasi turun salju(pixabay.com)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Media sosial kembali dihebohkan dengan sebuah klaim mengejutkan: Indonesia disebut-sebut akan mengalami hujan salju pada tahun 2026. Klaim ini berasal dari video-video viral di YouTube dan platform lainnya, yang menyebutkan bahwa suhu dingin ekstrem dari Antartika akan terbawa ke wilayah tropis akibat pemanasan global.

Beberapa akun bahkan menambahkan narasi ala breaking news dan menampilkan gambar-gambar visual menakjubkan yang belakangan diketahui hasil manipulasi teknologi kecerdasan buatan (AI). Tapi, benarkah Indonesia akan benar-benar mengalami turunnya salju dalam waktu dekat?

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memberikan klarifikasi terkait kabar tersebut. BMKG menegaskan bahwa tidak ada indikasi ilmiah yang menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami hujan salju pada tahun 2026.

Baca Juga:Ngerjain Ini 30 Menit, Dapat Saldo DANA Gratis Rp350.000 Langsung Masuk Dompet DigitalAplikasi Pinjol Kredit Dana 2025, Benarkah Aman atau Penipuan?

Sebaliknya, yang terjadi justru berbanding terbalik. Menurut Kepala BMKG, Prof. Dwikorita Karnawati, salju yang selama ini terdapat di Indonesia malah sedang menuju kepunahan. Pernyataan ini disampaikan dalam webinar bertajuk “Refleksi Banjir Jabodetabek: Strategi Tata Ruang dan Mitigasi Cuaca Ekstrem” pada Maret 2025.

“Riset yang dilakukan BMKG oleh Tim Klimatologi memprediksi, di tahun 2026, es di Puncak Jayawijaya dikhawatirkan sudah punah,” ungkap Dwikorita.

Indonesia memang memiliki salju, tetapi hanya terdapat di satu lokasi, yakni Puncak Jayawijaya atau dikenal juga sebagai Puncak Cartenz di Papua. Wilayah ini adalah bagian dari Pegunungan Jayawijaya yang memiliki ketinggian lebih dari 4.800 meter di atas permukaan laut.

Namun, sejak lebih dari satu dekade terakhir, ketebalan es di puncak tersebut terus mengalami penyusutan yang sangat signifikan. BMKG bekerja sama dengan PT Freeport Indonesia untuk memantau pencairan es menggunakan sistem stake monitoring, yaitu alat pengukur berupa pipa vertikal yang menunjukkan perubahan ketebalan es dari waktu ke waktu.

Dalam waktu kurang dari 20 tahun, ketebalan es menurun drastis. Dan jika tren ini terus berlanjut, pada tahun 2026, es abadi di Puncak Jayawijaya diperkirakan akan benar-benar lenyap.

Pencairan salju di Puncak Jayawijaya merupakan dampak nyata dari perubahan iklim global. BMKG menjelaskan bahwa meningkatnya emisi gas rumah kaca, terutama karbon dioksida (CO₂), menjadi faktor utama yang memicu peningkatan suhu bumi.

0 Komentar