Besar kemungkinan, aplikasi Kiti akan mengalami nasib serupa. Jika kelak aplikasi ini berhenti beroperasi atau kabur, maka akan bermunculan banyak korban yang merasa tertipu.
Meskipun saat ini terlihat bahwa aplikasi Kiti telah berkembang pesat di Indonesia, bahkan tampak telah mendirikan sejumlah kantor serta mengadakan berbagai kegiatan sosial, hal tersebut tidak dapat dijadikan jaminan bahwa aplikasi ini legal atau aman. Di beberapa komunitas, juga terlihat adanya kegiatan sosial berupa bantuan kepada masyarakat. Namun, semua ini sebenarnya sudah sering dilakukan oleh berbagai aplikasi berjenis Ponzi sebelumnya.
Sebagai contoh, aplikasi BBH dahulu juga sempat meresmikan kantor, membagikan sembako, melakukan bakti sosial, bahkan mendapat liputan dari berbagai stasiun televisi. Namun, pada akhirnya, BBH terbukti merupakan penipuan yang menelan banyak korban.
Baca Juga:5 Uang Kuno Indonesia yang Paling Dicari Kolektor, Harga Tembus Rp5 Juta!Shwe Kokko Kota Judi Raksasa di Myanmar yang Dibangun dari Hasil Menipu Orang Indonesia
Jadi, jika Anda tidak ingin menjadi korban berikutnya, saran saya sebaiknya segera berhenti sekarang juga, karena cepat atau lambat aplikasi semacam ini akan berakhir sebagai penipuan (scam).
Selain BBH dan AKQA, terdapat pula aplikasi lain yang memiliki modus serupa, yaitu AMV. Hingga saat ini, aplikasi tersebut masih berjalan. Alamat website-nya pun mirip, menggunakan struktur XML, index, dan HTML, yang mengindikasikan kemungkinan besar dikembangkan oleh pihak atau developer yang sama. Tugas yang ditawarkan juga identik, yaitu mengunduh aplikasi demi mendapatkan imbalan.
Ciri Khas Aplikasi Kiti dan Sejenisnya
Salah satu ciri khas dari aplikasi dengan skema Ponzi seperti ini adalah adanya tabel pendapatan yang tidak masuk akal. Pengguna baru biasanya diberi akses ke fitur gratisan sebagai strategi untuk menumbuhkan kepercayaan. Namun, hitung-hitungannya jelas sangat tidak logis, persis seperti yang kita lihat pada aplikasi Kiti.
Aplikasi AMV pun kini telah berkembang pesat, lengkap dengan kantor-kantor dan kegiatan sosialnya, bahkan sudah masuk dalam pemberitaan media cetak. Namun sekali lagi, semua itu tidak bisa dijadikan indikator keamanan atau legalitas aplikasi.
Tak hanya itu, terdapat pula para “leader” yang dipamerkan telah mendapatkan mobil mewah sebagai bentuk pencapaian. Fenomena ini bukan hal baru. Dulu pun ada aplikasi bernama DBC, dengan modus yang berbeda, yaitu membaca novel. Aplikasi tersebut juga sempat memiliki kantor, komunitas aktif, serta rutin mengadakan pertemuan.
