Selain itu, kecintaan yang berlebihan pada dunia akan menyebabkan seseorang merasa berat atau bahkan enggan untuk melakukan ketaatan dan amal kebaikan. Dengan begitu, setan akan dengan mudah membuatnya terjerumus ke dalam kubangan dosa dan kemaksiatan.
Terlalu cinta pada dunia akan meredupkan iman seseorang, bahkan bisa saja membuatnya jatuh dalam kegelapan (kekufuran). Padahal, Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam telah memberikan perumpamaan dunia dengan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا مَثَلُ ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا كَمَآءٍ أَنزَلْنَٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ فَٱخْتَلَطَ بِهِۦ نَبَاتُ ٱلْأَرْضِ مِمَّا يَأْكُلُ ٱلنَّاسُ وَٱلْأَنْعَٰمُ حَتَّىٰٓ إِذَآ أَخَذَتِ ٱلْأَرْضُ زُخْرُفَهَا وَٱزَّيَّنَتْ وَظَنَّ أَهْلُهَآ أَنَّهُمْ قَٰدِرُونَ عَلَيْهَآ أَتَىٰهَآ أَمْرُنَا لَيْلًا أَوْ نَهَارًا فَجَعَلْنَٰهَا حَصِيدًا كَأَن لَّمْ تَغْنَ بِٱلْأَمْسِ ۚ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Sesungguhnya perumpamaan kehidupan duniawi itu, adalah seperti air (hujan) yang Kami turunkan dari langit, lalu tumbuhlah dengan suburnya karena air itu tanam-tanaman bumi. Di antaranya ada yang dimakan manusia dan binatang ternak. Hingga apabila bumi itu telah sempurna keindahannya, dan memakai (pula) perhiasannya, dan pemilik-pemiliknya mengira bahwa mereka pasti menguasainya, tiba-tiba datanglah kepadanya azab Kami di waktu malam atau siang, lalu Kami jadikan (tanam-tanamannya) laksana tanam-tanaman yang sudah disabit, seakan-akan belum pernah tumbuh kemarin. Demikianlah Kami menjelaskan tanda-tanda kekuasaan (Kami) kepada orang-orang berfikir.” (QS. Yunus: 24)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
وَاللهِّ مَا الدُّنْيَا فِي الآخِرَةِ إِلاَّ مِثْلُ مَا يَجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟
Baca Juga:Ada yang Beda, Ini Cara Dapat Diskon Tarif Listrik 50 Persen Bulan Juni dan Juli 2025Pantas Dihargai Mahal, Ternyata ini Makna Filosofi Uang 75 Ribu yang Membuatnya Istimewa
Demi Allah, tidaklah dunia ini dibandingkan dengan akhirat, kecuali seperti seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut, maka lihatlah apa yang tersisa di jarinya?.” (HR. Muslim no. 2868)
Salah seorang salaf juga mengatakan, Cinta dunia adalah induk dari segala dosa dan merusak agama seseorang.
Berlebihan dalam mencintai dunia berarti ia lebih mengagungkan sesuatu selain Allah dan ini termasuk dalam dosa yang paling besar yang dapat mendatangkan azab dan murka-Nya.
Selain itu, mencintai dunia dibanding akhirat berarti ia telah menjadikan dunia sebagai tujuan utamanya, padahal kehidupan akhirat jauh lebih baik dibandingkan dunia. Sebab, inilah yang sering kali membuat seseorang lalai dan menjumpai kematiannya dalam kondisi yang buruk.
Sebagai penutup, agar terjauhkan dari sebab-sebab tersebut hendaklah seseorang senantiasa melakukan ketaatan dan bertakwa kepada Rabbnya, melakukan apa yang diperintah-Nya, serta menjauhi larangan-Nya. Bersegera untuk bertobat, memperbaiki tujuan hidupnya, dan memperbanyak doa meminta husnul khatimah. Dari Abdullah bin Amr bin Al-‘Ash radhiyallahu anhuma, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
