Berhati-hatilah dengan sikap menunda-nunda. Hari ini adalah sekarang. Janganlah menunggu esok hari, karena jika esok tak kunjung datang, hanya penyesalanlah atas apa yang luput darimu.” (Ma’alim fii Thariq Thalabil ‘Ilmi, hal. 30)
3. Senantiasa bermaksiat
Di antara sebab yang sering kali menggelincirkan seseorang pada kematian yang buruk adalah kemaksiatan yang terus menerus.
Kemaksiatan akan menyebabkan seseorang lalai dari perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan enggan untuk bertobat sehingga membuatnya dengan mudah mengalami su’ul khatimah saat kematiannya. Ibnu Katsir rahimahullah berkata,
أن الذنوب والمعاصي والشهوات تخذل صاحبها عند الموت مع خذلان الشيطان له. فيجتمع عليه الخذلان مع ضعف الإيمان. فيقع في سوء الخاتمة
Baca Juga:Ada yang Beda, Ini Cara Dapat Diskon Tarif Listrik 50 Persen Bulan Juni dan Juli 2025Pantas Dihargai Mahal, Ternyata ini Makna Filosofi Uang 75 Ribu yang Membuatnya Istimewa
Sungguh dosa, maksiat, dan syahwat ialah sebab yang bisa menggelincirkan manusia saat kematiannya, ditambah lagi dengan godaan setan. Jika terkumpul maksiat dan godaan setan, ditambah lagi dengan lemahnya iman, maka sungguh amat mudah ia mati dalam kondisi su’ul khatimah.” (Al-Bidayah wan Nihayah, 10: 184)
Apabila seseorang selama hidupnya senantiasa banyak melakukan amal buruk atau kemaksiatan dan sedikit sekali amal baiknya, dikhawatirkan saat menjelang kematiannya, ia dimatikan dalam kondisi buruk pula.
Karena ketika ia sering bermaksiat, maksiat itu akan menghalanginya untuk bertobat dan melakukan ketaatan, serta keburukanlah yang akan menghiasi pikirannya ketika menjelang kematiannya sehingga menyebabkannya mati dalam kondisi su’ul khatimah.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
يُبعَثُ كُلُّ عَبْدٍ عَلَى مَا مَاتَ عَلَيْهِ
Setiap hamba akan dibangkitkan sesuai kondisi kematiannya.” (HR. Muslim)
Maksud dari hadis tersebut dijelaskan oleh Al-Munawi rahimahullah,
أَيْ يَمُوْتُ عَلَى مَا عَاشَ عَلَيْهِ وَيُبْعَثُ عَلَى ذَلِكَ
Yaitu, ia mati di atas kehidupan yang biasanya ia lakukan dan ia dibangkitkan di atas hal itu pula.” (At-Taisir bi Syarh Al-Jami’ As-Shagir, 2: 859)
Oleh karenanya, kematian seseorang biasanya dipengaruhi oleh kebiasaan semasa hidupnya. Jika ia terbiasa dengan melakukan keburukan, maka ia akan dimatikan dalam kondisi buruk pula. Begitu sebaliknya, jika ia terbiasa dengan melakukan kebaikan, maka ia akan dimatikan dalam kondisi yang baik pula.
4. Terlalu cinta pada dunia
Cinta pada dunia biasanya dipengaruhi oleh lemahnya keimanan seseorang. Karena sebab lemahnya iman ini, akan menyebabkan lemahnya kecintaan dia kepada Rabbnya. Nantinya, yang akan menguasainya adalah syahwat dan maksiat, serta kecintaannya pada dunia yang amat mendalam.
