JABAR EKSPRES – Sektor pendidikan di Kota Bogor kembali memantik sorotan jajaran anggota dewan. Belum lama ini isu tingginya angka putus sekolah menjadi perhatian serius Rezky Kartika.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Bogor itu sangat menyayangkan dan menyampaikan rasa prihatinnya atas hal tersebut.
Tercatat, berdasarkan informasi yang disampaikan oleh Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bogor, pada tahun 2024 terdapat 599 anak yang mengalami putus sekolah.
Baca Juga:Waspadai PMK, DKPP Bandung Gandeng Unpad dan Telkom Periksa Hewan KurbanFasilitas Stadion GBLA Dirusak, PT PBB dan Gubernur Jabar Kecam Ulah Oknum Suporter
Rezky menilai, hal tersebut bertentangan dengan Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD) Kota Bogor 2025 – 2045 yang mengusung visi Kota Bogor sebagai Kota sains berkelanjutan.
Menyikapi itu, ia pun menegaskan bahwa di Kota Bogor tidak boleh ada anak yang tidak bisa bersekolah.
“Dengan tujuan pembangunan adalah menciptakan kota pendidikan, maka adanya kejadian ini sangat memprihatinkan. Sehingga kedepannya, tidak boleh ada anak yang tidak bisa bersekolah di Kota Bogor,” ungkap Rezky dikutip Senin (26/5).
Sebagai salah satu anggota DPRD Kota Bogor dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kecamatan Bogor Selatan, Rezky pun mengakui bahwa ia beberapa kali mendapati adanya kasus ini di wilayahnya.
Politisi Partai Demokrat itu menekankan, bahwa kedepannya DPRD Kota Bogor akan mendorong Disdik Kota Bogor untuk meningkatkan Program Jaringan Anti Putus Sekolah (Japati).
“Tentu kami akan mendorong program yang sudah baik ini dengan harapan tidak ada lagi anak-anak yang putus sekolah,” ucap dia.
“Kami di Komisi IV juga akan terus memantau perkembangan isu ini kedepannya dan menyusun program tambahan jika diperlukan agar bisa mengentaskan isu ini secepatnya,” imbuh Rezky. (YUD)
