Salah seorang siswi, Nailah Azizah (17), menyebut HP memang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian pelajar. Meski demikian, ia mengakui kehadiran HP juga kerap menjadi sumber gangguan saat belajar.
“Sering banget kejadian, guru lagi jelasin, kita malah cek notifikasi. Niatnya cuma sebentar, tapi akhirnya keterusan buka yang lain-lain. Fokus pun hilang,” ujar siswi kelas 11 itu.
Namun, ia menilai kebijakan kompromi yang diterapkan sekolah cukup bijak.
“Solusinya ya seperti sekarang HP dikumpulkan saat pelajaran, boleh dipakai saat istirahat atau kalau guru suruh cari materi. Kami jadi jauh lebih fokus di kelas,” jelasnya.
Baca Juga:Bupati Bogor Warning Soal Alih Fungsi Lahan di Tengah Panen Raya LeuwisadengJelang Persib vs Barito, Polresta Bandung Siapkan Nobar Gratis, Imbau Bobotoh Tak Konvoi ke Kota
Pendapat serupa juga disampaikan Naufal Fakih (17), siswa kelas 11. Menurutnya, teknologi tidak bisa dilepaskan dari dunia pendidikan saat ini, namun memang perlu pengelolaan yang bijak.
“Kebijakan larangan total bisa jadi bumerang. Guru juga butuh teknologi untuk bahan ajar. Tapi kalau tidak diatur, siswa bisa terjebak dalam penggunaan yang tidak produktif,” ujarnya.
Ia mendukung pendekatan kompromi seperti yang diterapkan di SMAN 2 Cimahi.
“Dengan kebijakan yang situasional dikumpulkan saat pelajaran, dipakai saat istirahat atau jika dibutuhkan kami tetap bisa belajar secara modern tanpa terganggu,” ucap Naufal. (Mong)
