4 Penyebab Utama SDM Indonesia Rendah dan Tidak Kunjung Maju hingga Sekarang

Penyebab Utama SDM Indonesia Rendah
0 Komentar

Namun, sekarang sudah tahun 2025. Teknologi semakin canggih, informasi semakin terbuka, tapi cara berpikir masyarakat kita terhadap hal-hal tersebut nyaris tidak berubah dari seratus tahun lalu.

Yang membuat situasi ini semakin rumit adalah ketika budaya mistik dibungkus dengan simbol-simbol religius, terutama simbol dari suatu agama. Simbol-simbol agama digunakan untuk melegitimasi praktik-praktik yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan nilai-nilai spiritual.

Di sinilah manipulasi mulai terjadi. Ketika masyarakat sudah terlanjur kagum dan percaya, maka siapa pun yang menggunakan simbol agama akan langsung dianggap berilmu, suci, atau membawa berkah. Hal ini membuat masyarakat sulit berpikir kritis, karena merasa bahwa selama ada embel-embel agama, maka pasti benar. Padahal, bisa jadi itu hanya digunakan untuk menutupi kebohongan atau menutupi praktik-praktik yang tidak masuk akal.

Baca Juga:7 Rekomendasi Tumbler Premium Terbaik 2025 Harga di Bawah Rp1 JutaBanyak Korban Perdagangan Organ Manusia di Kamboja, Gara-Gara Pemerintah Indonesia?

Fenomena pencak silat yang dikaitkan dengan unsur mistik juga menjadi contoh. Seolah-olah ada kekuatan tak terlihat yang membuat lawan terpental hanya karena diteriaki atau digerakkan tangan dengan cara tertentu. Ini bukan saja tidak rasional, tetapi juga menjauhkan masyarakat dari logika dasar tentang tubuh manusia. Banyak dari atraksi tersebut sejatinya adalah bentuk sugesti massal, bukan kekuatan supranatural. Namun tetap dipercaya karena dibumbui dengan doa-doa atau bacaan-bacaan keagamaan tertentu.

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: masih banyak masyarakat yang belum mampu membedakan antara agama sebagai nilai hidup dan agama sebagai simbol visual. Akibatnya, selama sesuatu tampak religius di permukaan, maka akan langsung dianggap suci, benar, atau sakral—padahal bisa saja itu hanyalah gimik untuk menutupi sesuatu yang tidak masuk akal.

Budaya mistik ini bukan hanya soal keyakinan pribadi, tapi berpengaruh langsung terhadap cara berpikir kita sebagai bangsa. Selama kita masih menganggap hal-hal semacam itu sebagai kebenaran tanpa menggunakan akal dan logika, maka tidak mengherankan jika kita terus tertinggal. Negara-negara maju telah meninggalkan cara berpikir mistik sejak abad ke-18, dan kini berfokus pada sains, teknologi, serta sistem berbasis logika.

Sementara kita, masih sibuk berdebat soal hal-hal magis yang tidak bisa dibuktikan secara empiris.

0 Komentar