Contohnya, konten TikTok atau YouTube yang menampilkan seseorang dipukul tetapi tidak mempan sambil mengenakan simbol-simbol keagamaan, atau orang-orang yang mengaku memiliki kekuatan spiritual padahal hanya sedang berakting. Konten semacam itu bisa viral dan dipercaya karena banyak orang tidak memiliki alat berpikir untuk menganalisis dan membongkar kebohongannya.
Masalah ini tidak bisa hanya menyalahkan murid atau guru semata, karena sistem pendidikannya sendiri memang didesain untuk mencetak pelaksana, bukan pemikir. Guru dipaksa mengajar sesuai kurikulum yang kaku, murid dikejar target ujian, dan proses pendidikan pun berubah menjadi rutinitas mekanis. Ini bukan pembelajaran, tapi pemrograman. Maka, tidak mengherankan jika hasilnya bukan manusia yang kreatif, melainkan manusia yang takut salah dan hanya bisa meniru.
Jadi, jika kita berbicara serius tentang mengapa sumber daya manusia di Indonesia masih banyak yang terjebak dalam pola pikir yang tidak rasional, jawabannya adalah karena sejak awal mereka tidak dibekali kemampuan untuk berpikir. Tanpa kemampuan berpikir kritis, semua hal yang tidak masuk akal itu akan terus hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya, seolah-olah hal tersebut sah dan layak dilestarikan.
Baca Juga:7 Rekomendasi Tumbler Premium Terbaik 2025 Harga di Bawah Rp1 JutaBanyak Korban Perdagangan Organ Manusia di Kamboja, Gara-Gara Pemerintah Indonesia?
Pelarian Realita
Fenomena orang yang fanatik terhadap hal-hal absurd seperti sound horeg atau komunitas bela diri yang irasional, sering kali bukan semata-mata soal kepercayaan buta. Lebih dari itu, hal ini juga menjadi bentuk pelarian dari realitas hidup yang keras.
Bagi sebagian orang, hidup di Indonesia penuh tekanan, penghasilan tidak mencukupi, beban hidup semakin berat, akses terhadap pendidikan dan layanan kesehatan masih timpang, dan peluang mobilitas sosial semakin sempit.
Dalam kondisi seperti itu, banyak orang mencari pelarian atau makna hidup dari hal-hal yang tampak sepele, tetapi memberikan rasa memiliki kendali, kepercayaan diri, atau perasaan menjadi bagian dari sebuah komunitas.
Fenomena orang yang memainkan “ilmu” atau berpura-pura menjadi pendekar sakti ini bisa diamati di dunia nyata. Mungkin dalam kehidupan sehari-hari mereka hidup pas-pasan, bahkan kekurangan. Namun di media sosial, mereka bisa tampil sebagai sosok sakti yang dihormati.
