Indonesia memiliki populasi sekitar 270 juta jiwa, sedangkan Malaysia hanya sekitar 35 juta jiwa. Jika kita berbicara soal jumlah kendaraan, menurut data tahun 2023, terdapat sekitar 150 juta kendaraan bermotor di Indonesia, sementara di Malaysia jumlahnya sekitar 30 juta. Dengan selisih yang sangat besar ini, beban subsidi pemerintah Indonesia jelas jauh lebih tinggi dibandingkan Malaysia.
Konsumsi BBM di Indonesia mencapai sekitar 1,5 juta barel per hari, sedangkan Malaysia hanya 600.000 barel per hari. Dengan permintaan yang tinggi dan cadangan minyak dalam negeri yang terbatas, Indonesia terpaksa harus mengimpor BBM dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan.
Tentu saja, impor berarti biaya lebih tinggi. Ditambah lagi dengan kebijakan subsidi, maka beban pengeluaran negara menjadi dua kali lipat. Maka lebih baik dioplos, ya kan? Hehe.
Baca Juga:Cara Dapat Uang Lewat Giveaway Rans Entertainment, Penipuan Atau Terbukti Membayar?Link DANA Kaget Spesial Akhir Juni Penuh Kejutan, Ambil Saldo Gratis Ini!
Sementara itu, Malaysia yang konsumsi BBM hariannya masih dalam batas wajar, masih mampu memenuhi kebutuhan dari produksi dalam negerinya sendiri.
Mungkin selama ini kita merasa kesal dengan kondisi ini, namun kita sering lupa bahwa populasi adalah faktor besar yang mengubah segalanya. Bukan hal mudah untuk mengatur dan menyejahterakan 270 juta jiwa. Dan ya, itu adalah tantangan besar.
Namun, apakah mustahil bagi Indonesia untuk menjadi sejahtera dengan populasi yang besar? Jawabannya: tentu saja mungkin. Asalkan kejujuran menjadi prioritas utama. Indonesia tidak kekurangan orang pintar—yang kurang adalah orang jujur.
