Ketika kebakaran terjadi, warga masih mengungsi di tenda, tetapi sudah didatangi surat penggusuran. Hampir satu bulan lebih mereka tinggal di dalam tenda. “Kita didiemin pemerintah di tenda. Eh, baru tiga hari dikasih surat penggusuran warga itu,” kata Yayu.
Warga lantas meminta izin ke kelurahan untuk kembali ke lahan, tetapi ditolak. “Kalau diem di tenda terus banyak penyakit. Ada bayi juga dan anak-anak pada saat itu. Jadi kita minta izin ke kelurahan sampai ngamuk karena jadi tontonan warga,” ujarnya.
Akhirnya, warga berinisiatif membangun tenda sendiri dengan biaya patungan. Terlebih saat mereka coba kembali ke rumah, sudah ada personel yang menghadang.
Baca Juga:Tegas Larang Penarikan Sumbangan Masjid di Jalan, Dedi Mulyadi Terbikan Surat Edaran!Ada Bangunan Semi-Permanen dengan Plang Pemerintah di Trotoar, Wali Kota Bandung Minta Dibongkar!
“Kalau kita mau pulang dan memperbaiki rumah katanya 21 hari. Lalu 22 hari baru kita masuk dan bersih-bersih. Malah datang polisi. Katanya hasil kebakaran belum turun, padahal ini sudah sebulan lebih. Akhirnya kita berkumpul bersama lagi,” ujar Yayu.
Warga mencoba mencari bukti legalitas tanah mereka, tetapi tidak mendapat kejelasan. “Kami pernah minta surat tanah kami ke kelurahan sampai ke BPN tapi tidak ditunjukkin. Ini lahan garapan harusnya bisa kami tempati. Karena bertahun-tahun. Mentok di sistem. Kami nasibnya bagaimana?” kata Yayu.
Saat menceritakan kebakaran di tengah sengketa lahan tersebut, Yayu berulang kali menenangkan seorang anak kecil di pangkuannya. Kurang lebih berumur 5 tahun. Anak kecil yang cemas kehilangan rumah, serta diusir dari tanah kelahirannya.
“Mamah, rumah mau digusur?” tanyanya sambil terisak.
*Save the Children Desak Pemerintah Bertindak*
Organisasi internasional yang berfokus pada pemenuhan hak anak, Save the Children Indonesia, angkat bicara terkait dampak psikososial yang dialami anak-anak di kawasan Sukahaji, Kota Bandung. Daerah itu telah dilanda sengketa lahan yang berlarut satu dekade lebih.
Brand and Communication Manager Save the Children Indonesia, Dewi Sri Sumanah, menyampaikan keprihatinan mendalam terhadap kondisi anak-anak yang berada dalam pusaran konflik agraria tersebut.
“Ketika terjadi konflik antarwarga atau penggusuran, anak-anak terekspos pada berbagai bentuk kekerasan, baik fisik maupun emosional yang dilakukan oleh orang dewasa. Mereka juga akan kehilangan rasa aman di lingkungan tempat tinggalnya,” jelas Dewi dalam wawancara tertulis yang diterima Jabar Ekspres pada Sabtu (12/4).
