Nendah pun mengalami kejadian serupa, teror pembakaran lahan, pada 2018 silam. Lantas dirinya tidak ingin anak-anak menjadi korban dan turut alami hal serupa berkali-kali. Terlebih lagi, ia tahu betul dampak yang dirasakan putri bungsungnya tersebut. Trauma hingga kesulitan tidur sempat dirasakan, termasuk seusai peristiwa kebakaran Rabu (10/4) malam kemarin.
“Dampak ke anak-anak memang kelihatan. Anak sih memang tidak pernah cerita. Tapi anak terkadang tidak bisa tidur tenang. Terkadang tiba-tiba menangis. Jadi, nanti berencana disuruh tinggal juga di rumah keluarga besar,” ungkap warga yang sejak 2006 tinggal di Sukahaji tersebut.
Warga lainnya, Karno, membenarkan bahwa kekhawatiran bukan saja melibatkan dirinya seorang. Melainkan anak dan cucu-cucunya. Seorang kakek berusia 54 tahun ini hanya bisa berharap semua proses sengketa lahan di Sukahaji berjalan lancar.
Baca Juga:Tegas Larang Penarikan Sumbangan Masjid di Jalan, Dedi Mulyadi Terbikan Surat Edaran!Ada Bangunan Semi-Permanen dengan Plang Pemerintah di Trotoar, Wali Kota Bandung Minta Dibongkar!
“Takut anak kena dampak kebakaran atau saudara juga takut. Takut juga ada teror susulan lagi. Saya juga memiliki cucu empat. Kami ada rencana juga untuk mengungsikan anak dari tanah ini. Anak dan cucu kami juga bercerita takut dengan situasi sekarang,” ujar Karno.
“Namun meski takut, kami pada akhirnya bertahan. Sekalipun ada intimidasi disertai pembongkaran. Moga ini cepat selesai. Jangan ada intimidasi ke warga lagi,” lanjutnya.
Sementara itu, Yayu Retnowati (48) turut menyampaikan kegusaran perihal sengketa lahan yang saat ini terjadi. Terlebih pada beberapa tahun silam pun, anak-anak turut menjadi korban kala kobaran api melahap ratusan rumah warga. Kebakaran besar pada 2018 mengubah segalanya. Rumah-rumah warga habis dilalap api.
Saat mereka masih berjuang bertahan di tenda darurat, tiga hari kemudian surat penggusuran justru tiba. “Ini musibah apa penggusuran?” kata Yayu, turut kehilangan tempat tinggalnya pada peristiwa kebakaran itu.
Menurut Yayu, sebelum kebakaran, sudah ada warga yang menerima uang kerahiman, tapi ada juga yang bertahan.
“Jadi 2010 itu sudah diberi surat dan diberi uang kerahiman. Banyak yang dibongkar waktu itu. Cuman yang belum ambil itu segelintir warga. Termasuk bapak saya. Tapi sudah beres. Terjadi sekitar 2013, pengacara datang ke rumah-rumah. Warga sudah mengerti dan dilawan. Mental,” ujarnya.
