Pameran Memorabilia Menyulap Kenangan dan Menyulam Tradisi

Pengunjung melihat karya tunggal seniman Nasirun pada pameran seni rupa bertajuk Memorabilia di Orbital Dago, Kota Bandung, Rabu (9/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
Pengunjung melihat karya tunggal seniman Nasirun pada pameran seni rupa bertajuk Memorabilia di Orbital Dago, Kota Bandung, Rabu (9/4). Foto: Dimas Rachmatsyah / Jabar Ekspres
0 Komentar

Di sebuah rumah galeri di kawasan Dago Atas, Bandung, blawong-blawong tua kembali hidup. Penyangga keris kayu ukir itu tak lagi cuma menyimpan sakral pusaka, tapi kini berfungsi ganda: kanvas bagi warna-warna menyala dan simbol-simbol spiritual khas Nasirun.

Muhamad Nizar, Jabar Ekspres.

Pameran tunggal Memorabilia yang digelar di Orbital Dago, 19 Maret hingga 27 April 2025, adalah sebuah perayaan terhadap benda-benda yang pernah hidup. Kini hidup kembali dalam tafsir baru. Di tangan Nasirun, benda-benda masa lalu bukan sekadar artefak nostalgia, melainkan bahan baku bagi seni yang melampaui batas fungsi dan waktu.

“Ini semacam up-cycle, tapi dengan rasa hormat,” kata Nasirun sambil terkekeh dalam pembukaan pameran, beberapa waktu yang lalu. “Seni saya tidak jelas,” lanjutnya, santai.

Baca Juga:Usai Libur Lebaran, Samsat Kota Banjar Dibanjiri Wajib PajakSolusi Pemerataan Ekonomi, Pemda Bakal Kembangkan Industri Pariwisata di Selatan KBB

“Saya tidak tahu pasti kenapa saya suka benda-benda itu,” katanya. “Mungkin karena saya besar dengan benda-benda seperti itu di sekitar saya. Mereka punya jiwa.”

Nasirun lahir di Cilacap, 1965, dari keluarga petani. Ia menyelami dunia batik di SMSR dan ISI Yogyakarta sebelum dikenal luas sebagai pelukis dengan gaya spiritual-Jawa yang kuat. Ciri khasnya: pewayangan, aksara, kaligrafi, dan warna yang berani.

0 Komentar