Namun sebagai manusia, saya menilai wajar saja apa yang dituduhkan sebagai perilaku yang tidak merugikan banyak orang atau urusan pribadi. Orang Indonesia, khususnya suku Sunda, pemaaf, sepanjang manfaat lebih besarnya teras di masyarakat. Khoirunassi anfauhum linass, ” terangnya.
Artinya masih ada kesempatan menjadi sebaik baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya untuk manusia lainnya.
Dedi mulyadi adalah fenomena. Dan fenomena membutuhkan sejumlah fakta untuk meyakinkan.
Baca Juga:KBNU Kota Bandung Kecam Kepemimpinan Bena Aji Satria, Ancam Mufaroqoh dari KNPIPengurus DPP Partai Demokrat Periode 2025-2030 Resmi Diumumkan, Berikut Susunannya
“Bahkan cara perilaku yang dituduhkan bahwa Kang DM ingin dianggap Raja, bahkan dipanggila Raja ketika jadi bupati purwakarta sekaligus kita sepakati saja sebagai jawaban fenomena raja. Lebih dalam lagi tuduhannya, dari Habib Riziq yang mengatakan musrik justru menjadi fenomena keyakinan bahwa di setiap daerah ada kearifan local yang fungsinya menghantarkan kekayaan budaya dan ibadah sekaligus, ” jelasnya.
Kita jadi ingat ketika Gus Dur mengatakan: “ Islam datang ke Indonesia bukan untuk mengubah budaya yang ada, bukan mengganti sampeyan menjadi antum, bukan sarung menjadi jubah, atau saya menjadi ana”. Kalimat Gus Dur ini menjadi falsifikasi atas tuduhan musrik itu.
Sebagai orang Sunda (hidup di Sunda, menggunakan tatar sunda, dan orang tua suku sunda) saya menyarankan agar kita menjaga Bapak Kita ini.
“Bapak Urang jangan sampai “kecletot” dan jatuh tersungkur. Sebagai orang Indonesia, kita harus mendorong Bapak Urang karena memang kita membutuhkannya sebagai pemimpin yang punya karakter. Indonesi masa depan membutuhkan Kang DM, ” terangnya.
Prof Obi menganalisa, jika hari ini dilakukan sensus, hampir pasti rakyat Indonesia membutuhkan gaya dan karakter kepemimpinan Kang DM, yang penuh inisiatif, gerak cepat, problem solving, dan membelah kepentingan rakyat.
“Dalam sebuah kesempatan di satu mobil bersama Presiden Prabowo, kang DM mencatat kalimat sakti dari presiden. “saya hanya akan menjadi presiden satu periode saja, selanjutnya Pak dedi meneruskan”.
Kalimat itu logis karena Pak Prabowo sudah cukup tua dan pernah mengalami stroke. Waktu untuk menikmati hidup, menjaga kesehatan dan healing harus disiapkan sejak dini. Meskipun ada kebiasaan kita, seorang presiden yang sukses selalu dua periode, kalaupun tidak orang nya yang partainya lah,” paparnya.
