Buku ini ringkas, hanya 56 halaman, tetapi dirancang agar informatif dan mudah dipahami. Tidak hanya ditujukan bagi pasien saja, tetapi juga bagi perawat, dokter umum, dan siapa saja yang ingin memahami glaukoma lebih dalam.
“Saya ingin masyarakat mendapatkan informasi yang benar, bukan sekadar hasil pencarian acak di internet,” ujar dr. Rini.
Salah satu tantangan terbesar bagi penderita glaukoma bukan hanya kehilangan penglihatan, tetapi juga dampak psikologisnya.
Baca Juga:PT Kaldu Sari Nabati Indonesia Berbagi Santuni Anak Yatim di Bulan RamadanPPPK dan CASN tidak Terima Gaji Selama 3 Bulan, Gara-Gara Pengangkatan Tertunda!
“Banyak pasien yang merasa takut, bingung, bahkan ada yang menangis sepanjang konsultasi,” ujarnya.
Oleh karena itu, buku ini tidak hanya menjelaskan aspek medis, tetapi juga memuat kisah-kisah nyata yang bisa memberi harapan.
“Glaukoma selalu terdengar mengerikan, tetapi saya ingin menunjukkan bahwa masih ada harapan. Tidak semua harus berakhir dengan keputusasaan,” tambahnya.
Lebih dari itu, buku ini juga memuat informasi tentang komunitas dan sumber bagi mereka yang sudah mengalami gangguan penglihatan, agar tetap bisa menjalani hidup dengan produktif.
Saat ini, buku ‘Menghadapi Glaukoma: Sebuah Perjalanan Harapan’ sedang dalam proses cetak dan akan segera tersedia untuk publik setelah Lebaran.
Dengan buku ini, dr. Rini berharap bisa membantu lebih banyak orang memahami glaukoma dengan cara yang tidak hanya ilmiah, tetapi juga emosional dan inspiratif.
“Kalau kita tahu, kita jadi lebih siap. Kalau tidak tahu, kita tidak siap,” pungkas dr. Rini. (zar/yan).
