Untuk anggaran kegiatan, pihak sekolah menegaskan tidak membebankan kepada siswa, tetapi memanfaatkan fasilitas yang ada di sekolah.
Antusiasme siswa terhadap kegiatan ini pun sangat tinggi. Dewi menuturkan, anak-anak sangat bersemangat saat mempraktikkan permainan tradisional.
“Anak-anak sangat antusias, bahkan saling berebut untuk mencoba. Misalnya, untuk kelas 1, mereka mencoba permainan paciwit-ciwit lutung dan terlihat sangat senang,” katanya.
Baca Juga:Dewan Dorong Evaluasi Kerja Sama Pengelolan Aset BOT, Ada Hotel Pullman hingga Lapangan GolfPendaftaran Calon Pimpinan Baznas Kota Banjar 2025-2030 Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftarnya!
Jenis permainan yang diperkenalkan disesuaikan dengan permainan yang umum dilombakan. Jika memungkinkan, sekolah juga berencana menambah variasi permainan di semester berikutnya.
“Selama proses semester ini, jika memungkinkan, akan kami tambah lagi permainan yang baru. Kelas tinggi kemarin sudah sampai gatrik, dan ke depannya mungkin ada dagongan,” imbuh Dewi.
Namun, Dewi tidak menampik adanya tantangan dalam pelaksanaan kegiatan ini, terutama terkait keterbatasan lahan bermain. “Tantangannya adalah minimnya lahan untuk anak-anak bermain. Jadi, mereka hanya bisa mempraktikkan di sekolah. Di rumah, mereka lebih sering bermain bola karena keterbatasan ruang,” ungkapnya.
Selain itu, beberapa permainan seperti gatrik yang melibatkan alat pemukul juga kurang diminati karena anak-anak khawatir mengenai keamanan dan keterbatasan ruang di rumah.
“Apalagi seperti gatrik, kan dipukul. Anak-anak takut dan jarang ada ruangan yang luas di rumah. Jadi, mereka hanya mencoba di sekolah,” pungkas Dewi. (Mong)
