Mengolah Limbah Menjadi Seni, Karya Anton Sugianto yang Menarik Perhatian Para Pejabat

Anton Sugianto (51) Pegiat Kerajinan Seni Siluet dari Bahan Limbah Kayu MDF (Mong)
Anton Sugianto (51) Pegiat Kerajinan Seni Siluet dari Bahan Limbah Kayu MDF (Mong)
0 Komentar

Berbeda dari kebanyakan pelaku usaha yang mengandalkan media sosial dan iklan, Anton lebih memilih pemasaran secara langsung atau melalui jaringan pertemanannya.

“Saya lebih suka face to face, tidak pakai media sosial. Paling promosi lewat WhatsApp ke rekan-rekan,” katanya.

Dalam proses pembuatan, ia menggunakan bahan MDF sebagai material utama, meskipun tetap memanfaatkan limbah jika memungkinkan.

“Kalau ada limbah yang bisa dipakai, ya saya pakai,” ujarnya.

Baca Juga:Dugaan Markup di Proyek Puskesmas DTP Cimanggung Sumedang, Pemilik Lahan: Pemda Minta Saya Jual Tanah TersebutMelihat Qur’an Tulis Tangan di Bandung, Wisata Religi di Masjid Mungsolkanas

Tantangan terbesar yang dihadapinya adalah keterbatasan alat. Hingga kini, Anton masih menggunakan mesin gergaji manual. Selain itu, kualitas foto yang dikirim pelanggan juga mempengaruhi tingkat kesulitan pengerjaan.

“Kalau fotonya buram, itu sulit. Sekarang kan foto bisa diedit, tapi kadang wajah jadi kurang jelas, seperti hidung atau mata yang tidak terlihat,” jelasnya.

Untuk satu karya, waktu pengerjaan tergantung kualitas foto. Jika fotonya jelas, proses pengeditan bisa memakan waktu setengah hari, sedangkan pengerjaan keseluruhan membutuhkan satu hari.

“Namun, jika fotonya sulit, pengerjaan bisa mencapai tiga hari,” kata Anton.

Anton menyadari, perkembangan teknologi membawa dampak besar dalam dunia seni. Ia pun terus mencari cara untuk mengadaptasi teknologi dalam karyanya agar lebih efisien.

“Saya sedang mencari cara supaya proses editing bisa lebih cepat,” katanya.

Menurutnya, meskipun seni sering dianggap harus murni dikerjakan secara manual, teknologi tetap memiliki peran penting.

Baca Juga:Kapolres Banjar Gelar Bakti Sosial Jumat Berkah Bulan Ramadan84 Ribu Pelajar dan Mahasiswa di Bandung Pecahkan Rekor MURI dengan Menulis Mushaf Al-Qur’an

“Teknologi itu mana yang baik kita ambil, yang jelek jangan. Jadi seni itu tidak ada batasannya,” tegasnya.

Kisah Anton membuktikan bahwa kreativitas dapat muncul dari mana saja. Di tengah modernisasi, seni tetap memiliki tempatnya, dan inovasi menjadi kunci untuk terus bertahan. (Mong)

0 Komentar