2 Dekade Tragedi Leuwigajah, Pemkot Cimahi Canangkan Bangun Monumen Peringatan dan Kawasan Konservasi Alam

Wakil Wali Kota Cimahi, Adithia Yudhistira Sebut Pemkot akan Canangkan Jadikan Eks TPA Leuwigajah Sebagai Konservasi Lingkungan (Mong)
Wakil Wali Kota Cimahi, Adithia Yudhistira Sebut Pemkot akan Canangkan Jadikan Eks TPA Leuwigajah Sebagai Konservasi Lingkungan (Mong)
0 Komentar

JABAR EKSPRES – Dua dekade setelah longsor di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 2005, peristiwa itu masih menyisakan duka mendalam bagi warga yang menjadi korban.

Setiap tahun, tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Di Kampung Adat Cireundeu, peringatan itu rutin dilakukan dengan tabur bunga untuk mengenang tragedi yang menelan banyak korban jiwa tersebut.

Wakil Wali Kota Cimahi, Adithia Yudhistira, meninjau langsung peringatan tersebut. Ia merespons keluhan masyarakat yang menilai perhatian terhadap peringatan HPSN di Cimahi masih kurang.

Baca Juga:Jual Obat Keras Tanpa Izin di Ciparay, 2 Orang Diamankan PolisiAmbisi Mbappe Cetak Sejarah di Real Madrid

Pada kesempatan itu, Adithia mencanangkan kawasan Cireundeu sebagai kawasan konservasi adat, budaya, dan lingkungan.

“Kedepan, kita jadikan Cireundeu ini sebagai pusat adat dan budaya serta pusat konservasi lingkungan,” kata Adithia di lokasi.

Sebagai bagian dari program tersebut, varietas bambu akan menjadi tanaman utama yang dikembangkan di kawasan itu.

Selain itu, Adithia juga merencanakan pembangunan monumen peringatan, namun menekankan bahwa monumen ini bukan sekadar simbol yang terkesan angker.

“Kita akan bikin kawasan terpadu, ada kawasan konservasi, wisata, pertanian, dan juga kawasan yang menjadi monumen peringatan peristiwa Leuwigajah yang menghilangkan dua desa dan menelan korban jiwa,” ujar Adithia.

Adithia menjelaskan, salah satu perbedaan utama dari proyek ini adalah skala pengembangannya. Ia mengaku telah berkoordinasi dengan Kota Bandung terkait sekitar 45 hektare lahan di wilayah tersebut yang siap dikerjasamakan.

“Jadi skalanya tentu skala besar,” katanya.

Ia menambahkan, Kampung Adat Cireundeu sudah memiliki embrio yang kuat untuk dikembangkan.

Baca Juga:PDIP Melawan! Megawati Pertegas Sikap Oposisi Pasca Hasto Ditahan KPKIkut Intruksi Megawati, Koster Tak Datang ke Retret Kepala Daerah?

“Di sini sudah ada desa adat, sudah ada tanaman unggulan seperti singkong. Tinggal kita kembangkan,” ujarnya.

Adithia optimistis proyek ini akan lebih berhasil dibandingkan Ekowisata Cimenteng. Namun, ia menegaskan bahwa pengerjaan proyek ini harus mengikuti sistem pemerintahan yang berlaku, termasuk studi kelayakan dan Detail Engineering Design (DED).

“Mudah-mudahan tahun depan kita sudah bisa mulai pembangunan, mulai dari monumen peringatannya, zona hutan bambunya, hingga lahan pertaniannya,” katanya.

0 Komentar